Arti Goro-Goro Pewayangan Klasik


This slideshow requires JavaScript.

Saya iseng googling tentang dunia pewayangan, dan mendapati contoh bait-bait yang biasa diucapkan Ki Dalang pada saat “goro-goro”. Goro-goro ini merupakan babak dalam pagelaran wayang yang biasanya ditandai dengan kemunculan para punakawan. Isinya merupakan petuah/pitutur/wejangan yang diselingi kisah humor segar oleh para punakawan. Satu bait yang menarik buat saya, saya kutip berikut:

Goro-goro......  
Goro-goro jaman kala bendu,
Wulangane agama ora digugu,
Sing bener dianggep kliru sing salah malah ditiru,
Bocah sekolah ora gelem sinau,
Yen dituturi malah nesu bareng ora lulus ngantemi guru,
Pancen prawan saiki ayu-ayu,
Ana sing duwur tor kuru,ana sing cendek tor lemu,
Sayang sethitek senengane mung pamer pupu.

Artinya kurang lebih sebagai berikut:

1- Goro-goro......(Suatu Ketika ... bener gak yah)
2- Suatu ketika di jaman kala bendu
3- Ajaran agama tidak lagi dituruti/dipercaya,
4- Yang benar dianggap keliru yang salah malah ditiru,
5- Anak sekolah tidak lagi mau belajar,
6- Kalau dinasehati malah marah begitu tidak lulus
   memukuli guru,
7- Memang perawan sekarang ayu-ayu,
8- Ada yang tinggi dan kurus,ada yang pendek dan gemuk,
9- Sayangnya kesenangannya hanya memamerkan paha.

Yang menarik perhatian saya adalah baris 3, 4, 5, dan 6 yang memang cerminan nyata saat ini. Pesan-pesan dengan rangkain kata lugas seperti itu semestinya lebih sering didengungkan sehingga membantu menyadarkan orang, mulai dari pejabat pemerintahan, pengusaha-kaum konglomerat, aparat, hingga pegawai kroco, dan rakyat yang terpinggirkan.

Meskipun saya orang Jawa tapi tidak tahu banyak tentang dunia pewayangan, hanya saja senang mendengarkannya. Sewaktu tinggal di Yogyakarta lewat radio hampir tiap malam selalu ada pagelaran wayang kulit semalam suntuk, sebagai hiburan sambil begadang atau sewaktu nglilir tidur. Sayang sekarang (di Kalimantan) sulit untuk bisa mendengarkan cerita pewayangan dengan petuah2 segar dengan memadukan antara masa lampau dengan kekinian yang di olah oleh Ki Dalang.

About these ads

Tentang sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 29 Oktober 2012, in Budaya Jawa, Budaya Jawa, Seni Tradisi, Wayang and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. imam achaacha

    wayang sak niki isine mung ndagel kalih ngomongne negoro….mboten nate pitutur bab totokromo…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: