Kisah Tokoh Alm. Ki Timbul Hadiprayitno


Ki Timbul Hadiprayitno lahir di Bagelen, Purworejo, pada 20 Juni 1934. Agamanya adalah Islam. Pendidikannya hanya sampai SR saja. Ia mempunyai 6 orang anak yang semuanya adalah dalang kecuali 1 orang putri. Ia adalah dalang yang terkenal dari Yogyakarata.

Sejak kecil ia telah belajar mendalang yang diperoleh dari orang tuanya. Timbul juga belajar kepada siapapun, antara lain kepada Ki Wiji Prayitno (ayah dari Hadi Sugito): Ki Kasmono, Kulon Progo tentang Sanggit; Ki Gondo Margono belajar mengenai sulukan; Ki Bancak tentang sabetan; dan Ki Narto tentang antawacana.

Beberapa kali ia terpilih sebagai dalang kesayangan oleh Radio-radio Swasta Niaga pada dekade 1980. Dari Keraton Kasultanan Yogyakarta, Ki Timbul mendapat anugerah nama Cermomanggolo. Awal tahun 1990, sebuah perusahaan multinasional, Mobil Oil, membuat proyek video mengenai pergelaran Wayang Kulit Purwo, Ki Timbul terpilih menjadi dalangnya karena dinilai sebagai dalang yang klasik.

Dalam garap pakeliran Ki Timbul sangat kuat dalam garap sabet, garap catur dan garap lakon. Ia juga mahir dalam mempergelarkan lakon-lakon banjaran yaitu cerita tentang riwayat hidup tokoh wayang. Dalam pergelaran wayang Timbul berusaha untuk menampilkan lakon, sanggit, sabet, dan gecul secara seimbang. Disamping itu, ia adalah dalang yang teguh dalam mempertahankan tradisi. Ki Timbul berani menolak jika penanggap menghendaki hadirnya bintang tamu. Dalam tradisi meruwat di kalangan masyarakat Jawa, Ki Timbul Hadiprayitno adalah salah satu dalang yang dituakan dan mampu untuk melaksanakan prosesi sakral tersebut. Kemampuan itu tidak banyak dimiliki oleh dalang-dalang lain.

Sebagai dalang terkenal Ki Timbul mempunyai jangkuan pentas yang luas, baik di dalam kota, propinsi, di luar Jawa, bahkan sampai keluar negeri. Frekuensi pentasnya dalam satu bulan sangat padat sekali, jika sedang ramai dalam satu bulan bisa lebih dari 40 undangan jika dituruti semuanya. Mengenai tarif dalam mendalang Timbul masih memberikan kelonggaran terhadap siapa yang menanggapnya. Untuk tarif di dalam kota dimana ia tinggal biasanya 10 juta cukup memadai.

Mengenai lakon yang menjadi favoritnya adalah menyesuaikan dengan trend masyarakat yang menanggap. Timbul pernah membuat sanggit lakon sendiri, yang kebanyakan adalah cerita tentang wahyu, antara lain: Wahyu Harjadah, Wahyu Kembang Slombo, Wahyu Panca Purbo, dan Wahyu Mustika Haji. Timbul memiliki kelomok karawitan sendiri, yang bernama Marsudi Budaya, jumlah anggaotanya kurang lebih 30 orang. Ia juga menulis buku-buku tetapi untuk kepentingan pribadi, antara lain mengenai lakon-lakon pedalangan, dan sulukan-sulukan.

Mengenai kiatnya menjadi dalang tenar adalah belajar baik secara lahir yaitu, kemampuan teknis pedalangan, membaca buku-buku pedalangan dan sumber-sumber lain. Dan secara batin, antara lain menjaga tingkah laku, antara ucapan dan tindakan harus sesuai.

Kisah lengkap silahkan dengarkan rekamana ini..

About these ads

About sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 10 Januari 2013, in Borobudur Recording, Budaya Jawa, Jogjakarta, RRI Jogja, Seni Tradisi, Tokoh, Wayang and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: