Category Archives: Wayang

Fungsi Wayang dan Wayang Sebagai Sarana Pendidikan


kuntulwilanten1-copy

Berniat mau membuat gubuk baru, tetapi malah gagal. Ya, sudahlah, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke-blog ini, walaupun banyak kekurangan sana-sini, akhirnyapun saya dandani juga. Mohon maaf, karena sudah berbulan-bulan tidak posting, berhubung bandwidht jelek dan lemot. Oke, langsung saja ke TKP.

Wayang adalah seni dekoratif yang merupakan ekspresi kebudayaan nasional. Disamping merupakan ekspresi kebudayaan nasional juga merupakan media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.

Wayang merupakan media pendidikan, karena ditinjau dari segi isinya, banyak memberikan ajaran-ajaran kepada manusia. Baik manusia sebagai individu atau manusia sebagai anggota masyarakat. Jadi wayang dalam media pendidikan terutama pendidikan budi pekerti, besar sekali gunanya. Oleh karena itu wayang perlu dilestarikan, dikembangkan, lebih-lebih wayang kulit Purwa.

Wayang menjadi media informasi, karena dari segi penampilannya, sangat komunikatif didalam masyarakat. Dapat dipakai untuk memahami sesuatu tradisi, dapat dipakau sebagai alat untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat, memberikan informasi mengenai masalah-masalah kehidupan dan segala seluk-beluknya.

Read the rest of this entry

Kisah Tokoh Alm. Ki Timbul Hadiprayitno


Ki Timbul Hadiprayitno lahir di Bagelen, Purworejo, pada 20 Juni 1934. Agamanya adalah Islam. Pendidikannya hanya sampai SR saja. Ia mempunyai 6 orang anak yang semuanya adalah dalang kecuali 1 orang putri. Ia adalah dalang yang terkenal dari Yogyakarata.

Sejak kecil ia telah belajar mendalang yang diperoleh dari orang tuanya. Timbul juga belajar kepada siapapun, antara lain kepada Ki Wiji Prayitno (ayah dari Hadi Sugito): Ki Kasmono, Kulon Progo tentang Sanggit; Ki Gondo Margono belajar mengenai sulukan; Ki Bancak tentang sabetan; dan Ki Narto tentang antawacana.

Beberapa kali ia terpilih sebagai dalang kesayangan oleh Radio-radio Swasta Niaga pada dekade 1980. Dari Keraton Kasultanan Yogyakarta, Ki Timbul mendapat anugerah nama Cermomanggolo. Awal tahun 1990, sebuah perusahaan multinasional, Mobil Oil, membuat proyek video mengenai pergelaran Wayang Kulit Purwo, Ki Timbul terpilih menjadi dalangnya karena dinilai sebagai dalang yang klasik.

Dalam garap pakeliran Ki Timbul sangat kuat dalam garap sabet, garap catur dan garap lakon. Ia juga mahir dalam mempergelarkan lakon-lakon banjaran yaitu cerita tentang riwayat hidup tokoh wayang. Dalam pergelaran wayang Timbul berusaha untuk menampilkan lakon, sanggit, sabet, dan gecul secara seimbang. Disamping itu, ia adalah dalang yang teguh dalam mempertahankan tradisi. Ki Timbul berani menolak jika penanggap menghendaki hadirnya bintang tamu. Dalam tradisi meruwat di kalangan masyarakat Jawa, Ki Timbul Hadiprayitno adalah salah satu dalang yang dituakan dan mampu untuk melaksanakan prosesi sakral tersebut. Kemampuan itu tidak banyak dimiliki oleh dalang-dalang lain.

Sebagai dalang terkenal Ki Timbul mempunyai jangkuan pentas yang luas, baik di dalam kota, propinsi, di luar Jawa, bahkan sampai keluar negeri. Frekuensi pentasnya dalam satu bulan sangat padat sekali, jika sedang ramai dalam satu bulan bisa lebih dari 40 undangan jika dituruti semuanya. Mengenai tarif dalam mendalang Timbul masih memberikan kelonggaran terhadap siapa yang menanggapnya. Untuk tarif di dalam kota dimana ia tinggal biasanya 10 juta cukup memadai.

Mengenai lakon yang menjadi favoritnya adalah menyesuaikan dengan trend masyarakat yang menanggap. Timbul pernah membuat sanggit lakon sendiri, yang kebanyakan adalah cerita tentang wahyu, antara lain: Wahyu Harjadah, Wahyu Kembang Slombo, Wahyu Panca Purbo, dan Wahyu Mustika Haji. Timbul memiliki kelomok karawitan sendiri, yang bernama Marsudi Budaya, jumlah anggaotanya kurang lebih 30 orang. Ia juga menulis buku-buku tetapi untuk kepentingan pribadi, antara lain mengenai lakon-lakon pedalangan, dan sulukan-sulukan.

Mengenai kiatnya menjadi dalang tenar adalah belajar baik secara lahir yaitu, kemampuan teknis pedalangan, membaca buku-buku pedalangan dan sumber-sumber lain. Dan secara batin, antara lain menjaga tingkah laku, antara ucapan dan tindakan harus sesuai.

Kisah lengkap silahkan dengarkan rekamana ini..

Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama


Rama Ki Nartosabdho Almarhum

Adegan Negara Tabelasuket.

Prabu Partawijaya duduk di Sitihinggil, dihadap segenap narapraja, brahmana Sabdamuni, Patih Renggabadra, permaisuri Dewi Rati dan puterinya Dewi Sakti. Sang Prabu sangat prihatin memikirkan nasib Negara Tabelasuket yang sedang ditimpa malapetaka, wabah penyakit merajalela, rakyat menderita. Kesedihan itu ditambah pula karena Dewi Sakti sudah lama kehilangan kegembiraan, lupa makan lupa tidur, bahkan pada hari itu sepatah katapun tak terucapkan. Ternyata sang putrid merindukan seorang ksatria Bambang Sakri yang hadir dalam impiannya bebrapa waktu yang lalu.

Prabu Partawijaya minta pendapat Brahmana Sabdamuni, sarana apakah kiranya untuk mengatasi malapetaka yang menimpa Negara dan keruwetan yang dihadapi oleh puterinya. Sang Brahmana menyarankan agar Prabu Partawijaya pergi ke pertapaan Saptaarga, minta pertolongan kepada Resi Manumanasa, seorang pendeta yang tersohor bijaksana, suka memberi pertolongan kepada sesame manusia. Beliaulah yang dapat memberantas malapetaka yang menimpa Negara Tabelasuket. Disamping itu, ksatria yang dirindukan oleh Dewi Sakti adalah cucu Resi Manumanasa. Prabu Partawijaya senang sekali mendengar saran Brahmana Sabdamuni, maka pada hari itu juga beliau berangkat ke pertapaan Saptaarga.

Adegan padepokan Tegalbamban, sebuah desa yang subur, rakyatnya hidup aman tenteram. Sayang sekali disana ada seorang pendatang yang menamakan dirinya Resi Dwapara. Walaupun ia bergelar Resi, namun darma hidupnya jauh dari sifat seorang brahmana, bahkan sebaliknya, ia mengutamakan tindak angkara dan kejahatan. Siswa-siswanya terdiri dari para raja raksasa yang ingin mendapatkan kesaktian, sebagai senjata untuk melampiaskan hawa nafsu dan merampas hak orang lain. Semua keinginan para siswa disanggupi oleh REsi Dwapara, dengan syarat mereka harus dapat membinasakan Resi Manumanasa di Saptaarga. Salah seorang siswa bernama Jarawasesa raja Widarba, menyanggupi syarat yang diajukan oleh gurunya dan segera berangkat ke Saptaarga.

Adegan ditengah hutan rimba. Dua raksasa suami isteri, Ditya Kala Haswata sedang bercakap-cakap dengan isterinya Kala Haswati. Kala Haswati sedang ngidam kepingin makan daging manusia ksatria tampan tanpa cacat kemudian  Kala Haswata menyanggupi keinginan isterinya lalu pergi mencari Ksatria yang di maksud.

Bambang Sakri sudah beberapa lama meninggalkan pertapaan Saptaarga, berkelana tiada tujuan, diikuti ketiga orang panakawan, Kyai Semas, Gareng dan Petruk. Ketika sampai dipinggir danau, mereka berhenti untuk melepaskan lelah. Para panakawan menghibur Bambang Sakri. Sedang ramai-ramainya bersendau gurau, dating Kala Haswata akan menangkap Bambang Sakri, tetapi raksasa ini engan mudah dibinasakan. Demikian juga Kala Haswati yang dapat bela pati suaminya dikalahkan oleh Bambang Sakri. Bersamaanhilangnya kedua raksasa, muncullah Batara Kamajaya dan Batari Ratih. Setelah berpesan bahwa Bambang Sakri akan segera ketemu jodohnya, kedua dewa itu kembali ke kahyangan.

Perjalanan kreta Prabu Partawijaya dari Negara Tabelasuket lewat dekat Bambang Sakri yang sedang beristirahat. Kereta berhenti dan sang Prabu turun. Prabu Partawijaya senang sekali bahwa yang dicari-cari telah ketemu. Dan Prabu Partawijaya mengutarakan maksudnya bertemu Bambang Sakri, namun Bambang Sakri tidak sanggup untuk ikut Prabu Partawijaya. Terjadi perang tanding antara Prabu Partawijaya dan Bambang Sakri, tapi Bambang Sakri tidak mampu menandingi kesaktian Prabu Partawijaya, akhirnya Bambang Sakri diboyong ke Negara Tabelasuket.

Ditaman kadilengen Negara Tabelasuket, Dewi Sakti duduk menunggu kedatangan sang Ayah Prabu Partawijaya, tidak terlalu lama Prabu Partawijaya dating dengan Bambang Sakri, Ternyata Bambang Sakri tertarik dengan Dewi Sakti dan dengan waktu singkat keduanya asyik masyuk memadu cinta. Setelah merayakan upacara perkawinan antara Bambang Sakri dan Dewi Sakti. Prabu Partawijaya berangkat ke Saptaagra meminta pertolongan Begawan Manumanasa.

Dalam perjalanannya menuju Saptaarga Prabu Partawijaya kena pengaruh kesaktian Resi Dwapara, terssasar ke pertapan Tegalbamban dan menjadi korban tipu muslihat Resi Dwapara. Ia menyanggupi perintah Resi Dwapara untuk memusnahkan Resi Manumanasa. Akan tetapi kejahatan itu tidak terlaksana bahkan menjadi pertemuan kedua besan antara Prabu Partawijaya dan Bambang Satrukem, keduanya lalu berangkat ke Negara Tabelasuket. Sementara itu Dewi Sakti sudah hamil 9 bulan kemudian melahirkan anak laki-laki, Hati Bambang Sakri dan Dewi  Sakti begitu gembira. Oleh Bambang Satrukem cucunya diberi nama Parasara. Dan akhirnya diboyong ke Pertapan Sabtaarga. Akrirnya Resi Dwapara dating sendiri ke Saptaarga dan Puthut SUpalawa menyongsongnya dalam perang tanding. Resi Dwapara tidak mampu menandingi kesaktian Puthut Supalawa.

  1. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 1
  2. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 2
  3. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 3
  4. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 4
  5. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 5
  6. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 6
  7. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 7
  8. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 8

Ki Nartosabdho – KalaBendana Gugur


Ki Nartosabdo Kalabendono Gugur Vesi Singo Barongan Tahun 60-80an

Ditya Kalabendana iku anake ragil Prabu Arimbaka, raja nagara Pringgadani. Kalabendana duwe sedulur cacah pitu, yaiku Prabu Arimba, Prabu Arimbi, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa lan Prabakiswa utawa Prabakesa.

Miturut andharan ing buku Ensiklopedi Wayang Purwa, weton Balai Pustaka, 1991, Kalabendana awujud raseksa kunthing, praupane edhum, ora pinter, jujur, wicarane alus nanging celat. Dheweke duwe rasa sih lan tresna banget marang Gathotkaca, sing ora liya ponakane. Kalabendana ngiringi Gathotkaca tumuju Suralaya nalika arep didu kalawan Prabu Pracona utawa Percona.

Nalika Gathotkaca sing isih bayi didu kalawan Ditya Kasipu utawa Sekipu, utusane Prabu Pracona, dheweke mati amarga dicakot. Kalabendana banjur ngamuk mbela Gathotkaca saengga akeh prajurit pangiringi Kasipu sing mati, wusana Ditya Kasipu kaweden meruhi kridhane Kalabendana.

 

Gathotkaca sing mati dening jawata banjur dikum ing kawah Candradimuka, digodhog bebarengan maneka warna sanjata, saengga sanjata-sanjata iku ndadekake ragane Gathotkaca ora tedhas tapak paluning pandhe sisaning gurinda. Wusana Gathotkaca banjur didu maneh kalawan Ditya Kasipu, saengga kasil mateni utusane Prabu Pracona iku. Malah Prabu Pracona dhewe uga kasil dipateni dening Gathotkaca.

Nalika kedadeyan kramane Brajadenta kanggo nguwasani dhampar keprabon Pringgadani, Kalabendana mehak sing ora sarujuk kalawan Brajadenta. Kawitane Kalabendana iku jenenge Kalakatung, amarga tansah nuwuhake lan nemoni kacilakan utawa bendana banjur dijenengake Kalabendana.

Ing lakon Gathotkaca Sraya, Abimanyu ngapusi sisihane sing kapisan, Dewi Siti Sundari (anake Prabu Kresna). Abimanyu kandha yen dheweke arep mbebedhag ing alas, ananging kasunyatane Abimanyu tumuju Wirata bebarengan Gathotkaca kanggo nglamar Dewi Utari.

Kalabendana dipasrahi njaga Dewi Siti Sundari. Dene Dewi Siti Sundari sing krasa ora kepenak atine amarga ditinggal Abimanyu banjur ngutus Kalabendana supaya nggoleki Abimanyu. Kanthi kasektene, Kalabendana bisa ngambu kringete Gathotkaca lan bisa nemokake kekarone, Gathotkaca lan Abimanyu. Kekarone ana ing keputren Wirata nembe gegojegan kalawan Dewi Utari.

Kalabendana ngejak kekarone bali mulih lan ngandhakake yen sisihane Abimanyu sedhih atine amarga ditinggal. Amarga wicarane Kalabendana iku, Dewi Utari ngerti yen Abimanyu wus duwe sisihan. Amarga mangkel lan krasa diapusi dening Abimanyu, Dewi Utari nyepatani Abimanyu yen samengkone bakal mati kanthi tatu arang kranjang ing paprangan Baratayuda.

Gathotkaca dadi muntab amarga tekane Kalabendana. Gathotkaca lali marang jejere bapak cilike iku. Kalabendana diglandhang metu lan diajar nganti mati. Sadurunge nemahi pati, Kalabendana nyepatani Gathotkaca yen ing sawijining dina dheweke bakal males tumindake Gathotkaca ing perang Baratayuda.

Ing perang Baratayuda babak kaping IV, Suluhan, sumpahe Kalabendana kasembadan. Sabanjure, sawise mangerteni dhodhok selehing prekara, nesune Dewi Siti Sundari disuntak marang Semar, pamonge Abimanyu. Semar dhewe genten nyepatani Dewi Siti Sundari, sisihane Abimanyu iki ora bakal duwe anak turun.

Amarga anane Kalabendana tansah nuwuhake kacilakan utawa bendana, hamula Kalakatung banjur kondhang kanthi jeneng Kalabendana. Dheweke mati dening Gathotkaca amarga bendana sing tansah ngiringi tekane. Ing perang Baratayuda babak kaping IV, Gathotkaca sinengkakake minangka senapati perang Pandhawa ngadhepi Adipati Karna, senapatine Kurawa.

Nalika sanjata Kunta metu lan digegem dening Adipati Karna, Gathotkaca ngendhani kanthi cara mabur ngangkasa, karepe supaya ora ketaman sanjatane Karna. Meruhi krenahe Gathotkaca iku, Karna dadi bingung amarga dheweke mesthekake sanjatane ora bakal bisa ngenani Gathotkaca.

Ananging Karna tetep nglepasake Kuntawijaya ngener ayang-ayang werna ireng ing akasa. Kunta ngeplas saka gandhewa. Jitma Kalabendana meruhi playune sanjata Kunta lan banjur nyekel sanjatane Karna iku lan kagawa tumuju Gathotkaca sing ndhelik aling-aling mega. Kuntawijaya nubles pusere Gathotkaca. Getih nyembut kadidene udan, nelesi pabaratan Baratayuda. ::pra::

http://www.solopos.co.id/jajawa/keluaran.asp?id=10761

  1. Kalabendhana Gugur 1
  2. Kalabendhana Gugur 2
  3. Kalabendhana Gugur 3
  4. Kalabendhana Gugur 4
  5. Kalabendhana Gugur 5
  6. Kalabendhana Gugur 6
  7. Kalabendhana Gugur 7
  8. Kalabendhana Gugur 8
  9. Kalabendhana Gugur 9
  10. Kalabendhana Gugur 10
  11. Kalabendhana Gugur 11
  12. Kalabendhana Gugur 12
  13. Kalabendhana Gugur 13
  14. Kalabendhana Gugur 14
  15. Kalabendhana Gugur 15

“Tolong tinggalkan komentar jika ada link yang ganda, rusak, dsb. Supaya dapat saya perbaiki”

Ki Nartosabdho – Parikesid Lahir Versi Singo Barong


Parykesid Lahir

Perang Baratayudha usai sudah

Perang yang telah merengut ribuan prajurit-prajurit pilihan yang hanya mengikuti panggilan negara dan perintah senopati, menghadirkan penderitaan dan sengsara bagi semua.

Perang yang telah menghilangkan nyawa ratusan para satria pinunjul yang saling bertarung mempertahan harga diri dan mengumbar kedigdayaan, menyisakan perih dan duka yang dalam.

Perang yang mempertahankan sejengkal hak atas kepemilikan negara oleh para penguasa, begitu banyak mengorbankan jiwa, raga dan airmata bersimbah darah.

Perang yang mengatasnamakan perjuangan dan kebenaran, telah menghancurkan persaudaraan dan meluluhlantakan bangunan-bangunan kasih sayang.

Perang Baratayudha telah menguras habis airmata Kunthi. Perang itu semakin menyayat hatinya hingga terasa luka seperih-perihnya. Duka kembali mnyeruak manakala mengingat kembali pertarungan antara Karna dan Arjuna, dua orang putranya yang gagah rupawan. Dan seperti yang disaksikannya kemudian, salah satunya kemudian menuemui ajal ditangan yang lawannya. Hati ibu mana tiada perih menyaksikan perseteruan antara Saudara sendiri yang berujung pada ajal menjemput. Hati ibu mana yang tidak merintih, saat menerima kabar satu persatu anak-anaknya berguguran terbunuh.

Perang memang kejam. Dimana-mana tidak ada kebahagiaan yang tercipta dalam perang.

Begitu-pun para Pandawa. Meskipun kemenangan mereka genggam atas saudaranya Kurawa, namun sesudahnya hati tetap merana. Saat merunut kembali kisah masa lalu bersama para Saudara satu darahnya. Meskipun acap dan sepanjang hidupnya mereka selalu dizalimi, namun itulah yang mendewasakan mereka. Ibarat pupuk, semakin menyuburkan kebijaksanaan mereka dalam menyikapi hidup dan menjalaninya.

Namun semua telah terjadi, semua telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Kehidupan harus berlanjut. Puing-puing berserakan harus ditata ulang tuk menjadi bangunan nan megah dan menyenangkan.

Hati-hati yang luka harus segera terobati. Jiwa-jiwa yang merana harus segera menemukan kesegaran. Dan hidup kemudian harus lebih baik.

Semangat itulah yang dihembuskan oleh Kresna dan Baladewa kepada para Pandawa dan keluarganya. Semangat tuk segera keluar dari rasa sesal dan menatap masa depan cemerlang. Semangat yang berlandaskan bahwa, segala kemuliaan butuh pengorbanan asalkan perjuangannya tetap berada dalam rel kebenaran.

Memang … mudah dikatakan namun sangat sulit untuk menerima kepahitan bila itu dirasakan sendiri. Arjuna, satria penengah Pandawa, kehilangan begitu banyak orang-orang terkasih. Salah satunya adalah putra kesayangannya, Abimanyu. Abimanyu tewas mengenaskan sementara istrinya, Dewi Utari tengah mengandung buah cintanya.

Ya … saat perang usai dan menimbulkan banyak persoalan baru, seorang bayi terlahir kedunia.

Sumangga Nikmati

Sumber: Http://wayangprabu.com//

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.