Campursari

Musik Campursari yang ngetrend di tengah pecinta musik di Jawa khususnya dan di Indonesia umumnya sebenarnya bukan jenis musik baru muncul dan merebak di akhir tahun 1990-an. Pada pertengahan tahun 1960-an sampai tahun 1970-an Campurasri sudah ada di tanah jawa. Campursari pada tahun-tahun itu, yang melakukan siaran di RRI Semarang dengan vokalisnya almarhum S. Dharmanto mendendangkan lagu-lagu langgam Jawa. Apa yang dilakukan oleh S.Dharmanto itu adalah menunjukan bahwa campursari pernah dikenal oleh masyarakat Jawa.
Dalam kaitan gamelan dan lagu Jawa, di tahun-tahun 1930-an, di kalangan gerejani mencoba menggabungkan lagu gereja dengan gamelan. Bahkan hingga sekarang perpaduan antara gamelan dan lagu gereja dan syair-syair Jawa masih bisa di jumpai.
Pertanyaan yang muncul adalah: Apakah perpaduan antara gamelan dan lagu gereja adalah bentuk dari Campursari?
Pada kasus ini, perpaduan yang terjadi bukan saling mengisi, tetapi gamelan mengiringi lagu-lagu gerejani yang menggunakan syair Jawa, tetapi nada intonasinya adalah barat. Jadi perpaduan antaran Jawa (timur) dan barat melalui gamelan dan lagu gerejani lebih sebagai upaya untuk mendekatkan kultur barat pada kultrur Jawa, sehingga tidak ada kaitan sama sekali dengan munculnya fenomena Campursari.
Mungkin bisa benar jika dikatakan bahwa Manthous adalah “awal” dari berkembangnya musik Campursari. Tetapi kalau Manthous adalah pencetus Campursari, tentu tidak, sebab dia juga mengakui almarhum S. Dharmanto. Apapun klaim yang diambil terhadap fenomena Campursari, yang lebih penting untuk dimengerti adalah, musik Campursari merebak di banyak tempat, sehingga menyebut musik Campursari tidak hanya Manthous, tetapi ada banyak yang bisa di tunjuk, Manthous adalah salah satu diantaranya. Kalaupun Manthous paling terkenal adalah perkara lain.
Yang menarik dari kehadiran Campursari Manthous adalah dia berawal dari “nakal”. Artinya, Manthous mencoba “mengotak-atik” gamelan yang telah dikenal pakemnya untuk kemudian digabung dengan jenis musik elektrik yang latar belakangnya berbeda dengan gamelan. Dari “kenakalan” itulah muncul jenis musik yang sekarang dikenal dengan nama Campursari.
Tapi apakah hanya karena Manthous nakal sehingga “lahir” Campursari? Tentu saja tidak. Sebab Manthous telah malang melintang di dunia musik, termasuk menjadi player dari pub ke pub. Dari sejumlah pengamalam yang dia geluti dan kreativitas (atau kenakalan) apa yang sekarang dikenal dengan nama Campursari bergulir ke tengah publik.
Keberhasilan Manthous memang di dukung oleh hal-hal lain di luar kreativitas Manthous. Dukungan yang terpenting adalah industri rekaman, dan kemudian diteruskan melalui media. Artinya, Campursari bergulir begitu amat cepat ke tengah masyarakat dan diterima oleh mereka karena disebabkan banyak faktor, selain kehadirannya fenomenal serta didukung industri rekaman, ada ruang kosong yang menyebabkan tidak tumbuhnya jenis musik Keroncong dan kejenuhan terhadap musik pop. Dalam ruang kosong inilah, Campursari melalui Manthous mengisi dan ternyata publik menerimanya, maka bergulirlah bermacam musik Campursari yang bukan hanya Manthous.

Apakah “Jawa” Bisa Ditemukan Dalam Campursari?

Apa yang terpenting dari Campursari yang dalam bahasa jawa dikenal dengan istilah laras. Berpijak dari laras inilah perpaduan antara gamelan (pentatonis) musik elektrik semacam keybord (diatonis) bisa bertemu sehingga ngenake rasa.(Mengenakan rasa). Dari dua kata kunci inilah apa yang sekarang dikenal dengan nama Campursari menapaki hidupnya. Ketika orang melihat musik Campursari yang mengabaikan dua unsur dalam kultur Jawa biasanya musik Campursari tersebut hadir secara nekat. Sebab tidak setiap lagu bisa dicampursarikan, ketika group musik Campursari berani menyanyijkan apapun jenis lagu, pastilah Campursari seperti itu bukan jenis Campursari yang berangkat dari kultur Jawa.
Dari soal laras dan rasa itulah antara kedua jenis musik (gamelan dan elektrik) tidak ada yang paling dominan, dalam bahasa jawa dipangku, sebab jika gamelan mendominasi elektrik, apa yang disebut laras menjadi hilang, dan apa yang disebut sebagai ngenake rasa menjadi tak tercapai. Laras dalam bahasa politik kira-kira yang disebut sebagai demokrasi.
Melalui laras inilah kedua kultur yang berbeda (gamelan dan elektrik atau timur dan barat) sungguh-sungguh bertemu. Dia bertemu tidak lantaran di dalam satu ruang yang sama. Dia bertemu karena keduanya memang ingin mempunyai makna. Keduanya ingin bermakna. Dalam bahasa jawa ngenake rasa. Dari Campursari inilah orang bisa melihat, apabila kultur jawa terbuka terhadap kultur lain akan diterima oleh kelompok masyarakat yang lebih luas dan bukan hanya dari kalangan jawa sendiri.
Di dalam ruang yang amat terbuka ini, di mana lalu lintas informasi amat cepat sekali berpindah, jawa tidak boleh menutup diri, tetapi dia harus masuk dalam lalu lintas informasi yang memang tidak bisa dihindari kehadirannya.
  1. DJINARGO DJETENG SOETRISNO ST MT

    Senget Sae Saged mbantu Kawulo nderek uri2 Budoyo Jawi saking KALTIM.

  2. DJINARGO DJETENG SOETRISNO ST MT

    Sanget mbantu Kawulo nderek uri2 Budoyo Jawi saking telatah KALTIM.

  3. DJINARGO DJETENG SOETRISNO ST MT

    Monggo dipun URI-URI Budoyo LELUHUR SaKing tAnAh JAWI ……
    Sinambi nyruput Kopi Telo Godok DULUR, Lali Utang ora Lali BoJo.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: