Arsip Blog

Film Dokumenter – Sejarah Gereja dan Candi Hati Kudus Tuhan Yesus Ganjuran


Screenshot Studio capture #627

Gereja Hati Kudus Yesus merupakan gereja Katolik Roma di Ganjuran, Bantul, Indonesia. Gereja ini juga dikenal dengan nama Gereja Ganjuran, berdasarkan tempat letaknya. Gereja ini merupakan gereja tertua di Bantul.

Gereja Ganjuran didirkan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah itu. Dari jumlah 25 orang Katolik di Ganjuran pada tahun 1922, pada tahun 2011 sudah ada 8.000. Gedung gereja sudah banyak diubah, termasuk dibangun ulang setelah Gempa bumi Yogyakarta 2006. Banyak orang sudah menulis tentang desainnya yang beraliran JawaScreenshot Studio capture #626, dan gereja ini terus memasuki budaya Jawa dalam liturgi.

Gereja Ganjuran terletak di Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul, 17 kilometer di sebelah selatan kota Yogyakarta. Gereja ini dibangun di tanah seluas 2,5 hektar dan termasuk tempat parkir, candi, gereja, pastoran, dan beberapa bangunan lain. Pada tahun 2011 ada sebanyak 8.000 anggota; sebagian besar merupakan petani, pedagang, dan buruh.

Gedung gereja dibuat dengancats gaya joglo dan dihiasi dengan ukiran gaya Jawa yang menutupi 600 meter per segi. Ini termasuk ukiran nanas dari kayu serta ukiran berbentuk jajar genjang yang disebut wajikan. Altarnya dihiasi dengan malaikat yang berbusana tokoh wayang orang. Karena gaya arsitektur ini, ilmuwan Belanda M. C. Ricklefs menyatakan bahwa gereja di Ganjuran mungkin merupakan manifestasi penyesuaian gereja Katolik di Jawa yang paling menonjol. Ilmuwan Jan S. Aritonang dan Karel A. Steenbrink menyatakan bahwa gereeja merupakan “produk paling spektakular … dari kesenian pribumi yang dibantu orang Eropa.”.

Tanah yang sedang digunakan untuk gereja Ganjuran dulunya bagian dari pabrik gula milik saudara Joseph dan Julius Schmutzer, dua orang Belanda. Pada tahun 1912 mereka mulai menjaga hak buruh sebagaimana ditentukan dalam Rerum Novarum;  mereka juga mulai mendirikan sarana pendidikan di wilayah tersebut, dengan tujuh sekolah untuk laki-laki dibuka pada tahun 1919 dan sekolah perempuan dibuka pada tahun 1920. Mereka juga mendorong staff mereka untuk masuk agama Katolik. Dengan hasil dari pabrik mereka, keluarga Schmutzer mendirikan Ruma Sakit St Elisabeth Hospital di Ganjuran. Mereka juga mendirikan Onder de Bogen (kini Rumah Sakit Umum Panti Rapih) di kota Yogyakarta. St Elisabeth sedang diurus oleh Orda Carolus Borromeus.

Juga pada tahun 1920, Pr. van Driessch, seorang Yesuit yang pernah mengajar di Kolese Xaverius di Muntilan, mulai berkhotbah di Ganjuran dan mendirikan komunitas Katolik di sana. Hingga tahun 1922 ada sebanyak 22 orang Katolik keturunan Jawa di sana; jumlah ini meningkat dengan cepat. Pada tanggal 16 April 1924 keluarga Schmutzers mendirikan gereja di tanaklh mereka, dengan van Driessch sebagai pastor pertama. Ukiran dan bagian gereja lain dikerjakan oleh seorang seniman Jawa yang bernama Iko

Tiga tahun kemudian masyarakat mulai membangun sebuah candi setinggi 10 meter, mirip candi yang ada di Prambanan; Iko membuat patung Maria dan Yesus yang menggambarkan mereka sebagai penguasa dan guru Jawa. Patung ini diukir dengan motif batik.Batu diambil dari kaki Gunung Merapi di bagian utara, sementara pintu masuk diarahkan ke Selatan; orientasi ini mencerminkan kepercayaan orang Jawa pada harmo,ni utara dan selatan. Candi ini diresmikan pada tanggal 11 Februari 1930 oleh Uskup Batavia Antonius van Velsen.

Van Driessch meninggal pada tahun 1934 dan diganti oleh Pr. Albertus Soegijapranata; Soegijapranata bertugas sekalian sebagai pastor Ganjuran dan Bintaran. Pada tahun ini jumlah orang Katoliknya sudah mencapai 1.350 orang. Keluarga Schmutzer kembali ke Belanda pada tahun yang sama. Selama Revolusi Nasional Indonesia pabrik gula dibakar habis, tetapi sekolah, gereja, dan rumah sakit selamat. Pada tahun 1947 Pr. Justinus Darmojuwono mulai menjabat; dia menjadi pastor sampai tahun 1950.

Pada tahun 1981 pastoran diperluas di bawah Pr. Suryosudarmo, dan tujuh tahun kemudian, di bawah Pr. Gregorius Utomo, gereja ini mulai lebih menekankan pengaruh Jawanya. Pada tahun 1990 Konferensi Federasi Uskup Asia mengadakan sebuah seminar mengenai masalah pertanian dan petani di Gereja Ganjuran. Sejak 1995 Gereja lebih menekankan pembangunan candinya, dan dengan sumbangan dari masyarakat sudah menambahkan 15 relief yang menggambarkan Jalan Salib; relief ini awalnya dirancang oleh keluarga Schmutzer. Setelah gereja lama dihancurkan oleh gempa bumi besar pada bulan Mei 2006, gereja ini dibangun ulang dengan gaya Jawa.Pembangunan ulang ini menghabiskan sebanyak Rp 7 miliar.

Link Unduh Video Sejarah Gereja dan Candi Ganjuran

Lagu Rohani – Instrumentalia Cahaya Suci


Untuk mengisi kekosongan di hari Minggu ini, saya iseng-iseng untuk menulis-nulis konsep postingan. Syukur jika bisa diposting sekalian. Kali ini saya akan memposting beberapa lagu instrumentalia “Rohani Katholik”. Sengaja hanya saja beri audionya, karena memang tidak diperbolehkan untuk dipublikasikan (Download). Selamat menikmati.






Silahkan tebak judul lagu-lagu diatas :) . Bagi yang dapat menebak secara tepat dan lengkap, admin akan berikan 1 CD Instrumentalia Cahaya Suci (Bukan CD bajakan) secara gratis!

Fungsi Wayang dan Wayang Sebagai Sarana Pendidikan


kuntulwilanten1-copy

Berniat mau membuat gubuk baru, tetapi malah gagal. Ya, sudahlah, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke-blog ini, walaupun banyak kekurangan sana-sini, akhirnyapun saya dandani juga. Mohon maaf, karena sudah berbulan-bulan tidak posting, berhubung bandwidht jelek dan lemot. Oke, langsung saja ke TKP.

Wayang adalah seni dekoratif yang merupakan ekspresi kebudayaan nasional. Disamping merupakan ekspresi kebudayaan nasional juga merupakan media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.

Wayang merupakan media pendidikan, karena ditinjau dari segi isinya, banyak memberikan ajaran-ajaran kepada manusia. Baik manusia sebagai individu atau manusia sebagai anggota masyarakat. Jadi wayang dalam media pendidikan terutama pendidikan budi pekerti, besar sekali gunanya. Oleh karena itu wayang perlu dilestarikan, dikembangkan, lebih-lebih wayang kulit Purwa.

Wayang menjadi media informasi, karena dari segi penampilannya, sangat komunikatif didalam masyarakat. Dapat dipakai untuk memahami sesuatu tradisi, dapat dipakau sebagai alat untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat, memberikan informasi mengenai masalah-masalah kehidupan dan segala seluk-beluknya.

Read the rest of this entry

Ki Anom Suroto & Ki Bayu Aji – Kresna Dadi Ratu


Anom S 2

Lakon ini sudah cukup lama beredar di dunia maya. Ketika saya gogling ternyata belum ada MP3-nya, makanya convert saja flash video youtube tadi ke MP3. Untuk mempermudah DL dan menikmati audio melalui player maka saya coba gabung file-file tersebut dalam 6 file (saya harapkan sesuai dengan aslinya per CD).

Memang agak terganggu juga karena split videonya agak kurang pas. Namun saya mencoba mendengarkan, hasilnya cukup lumayan juga kok.

Lakon ini berjudul “Kresno Dadi Ratu” yang dibawakan oleh Ki Anom Suroto dan putranya, Ki Bayu Aji Pamungkas. Menceritakan bagaimana proses Narayana menjadi Prabu Kresna, raja di Dwarawati. Seperti biasa di pagelaran wayang Anom Suroto, porsi hiburan lawak cukup besar yaitu di Cangikan dan Goro-Goro sehingga cenderung kita mencari hiburannya saja.

  1. Kresna Dadi Ratu 1


  2. Kresna Dadi Ratu 2


  3. Kresna Dadi Ratu 3


  4. Kresna Dadi Ratu 4


  5. Kresna Dadi Ratu 5


  6. Kresna Dadi Ratu 6


Kidung Rohani Katolik


santo-fransiskus-dengan-bunda-maria-dan-yesus-200

Menyambung dari postingan Lagu Rohani Katolik Jawa  saya menambah lagu-lagu rohaninya, karena banyak  yang menyukai postingan itu. Silahkan nikmati lagunya. Tuhan Yesus Memberkati & Berkah Dalem.


  1. Kula Tresna Gusti Yesus
  2. Gusti Pangayomku
  3. Jrih Tresna Kawula
  4. Ratu Rosario
  5. Nderek Dewi Mariya

Saksikan vide0 dibawah:
(Sangat terharu dengan alkulturasi budaya jawa.. Indah sekali)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.