Ki Nartosabdho – Bajaran Bisma


Bisma tumbuh menjadi seorang ksatria yang gagah perkasa dan berbudi luhur. Prabu Santanu sering mempercayakan kerjaan Hastina kepada Bisma, sementara dirinya pergi berburu. Ini disebabkan oleh janji sang prabu kepada dirinya sendiri untuk tidak menikah lagi karena teringat akan cintanya kepada Dewi Gangga, untuk menghilangkan rasa rindunya kepada Dewi Gangga sang prabu sering pergi berburu.

Saat sedang pergi berburu di dekat kali Yamuna, sang prabu mencium bau harum disekitarnya. Sang prabu menjadi bingung karena didekat situ adalah desa nelayan yang berbau amis. Ketika ditelusuri, sang prabu melihat seorang wanita cantik yang mengeluarkan bau harum dari badannya.

Terkesima, sang prabu mendekati wanita itu dan menanyakan namanya… sang putri menjawab bahwa dia beranama Setyawati anak seorang nelayan. Sang prabu kemudian bertanya kenapa badannya bisa berbadan harum dan oleh Setyawati dijelaskan bahwa badannya dulu berbau amis tapi menjadi harum setelah ditolong oleh begawan Parasurama. Setyawati bercinta dengan sang begawan dan badannya menjadi harum setelah melahirkan seorang anak laki yang berbadan amis bernama Abiyasa yang kini sedang bersama ayahnya menimba ilmu.

Sang prabu menjadi semakin tertarik pada Setyawati dan bertanya apakah Setyawati bersedia menjadi istrinya. Setyawati sebenarnya juga sudah tertarik pada Santanu, namun Setyawati telah berjanji hanya akan menikah dengan orang yang bisa memberikan keturunannya sebagai seorang raja. Setelah dijelaskan, sang Prabu menjadi bingung. Sang prabu memang seorang raja tapi tahta kerajaan Hastina selayaknya menjadi milik Bisma sebagai putra mahkota dan sang prabu tidak mau mengambil hak tersebut dari Bisma karena Bisma merupakan orang yang adil dan bijaksana, calon raja yang ideal. Selain itu, walaupun Bisma bersedia menolak tahta, keturunannya pasti akan menuntut hak atas tahta kerajaan Hastina dan akan pecah perang saudara.

Dalam keadaan linglung dan berat hati, sang prabu terpaksa meninggalkan Setyawati menuju istana. Sang prabu terus menerus memikirkan Setyawati sehingga sering termenung, lupa makan dan akhirnya jatuh sakit karena badannya yang lemah. Bisma sebagai anak yang berbakti menjadi khawatir dan memanggil dokter dan tabib untuk menyembuhkan Prabu Santanu namun tak ada yang mampu. Salah seorang tabib berkata bahwa penyebab lemahnya sang prabu disebabkan oleh pikiran bukan oleh penyakit. Bisma kemudian mendekati ayahnya untuk bertanya apa yang menyusahkan ayahandanya. Oleh sang prabu kemudian dijelaskan segalanya, mengenai perjumpaan dengan Setyawati, persyaratan Setyawati mengenai tahta hastina.

Mendegar penuturan ayahnya, Bisma berjanji bahwa dia rela menyerahkan tahta Hastina demi kebahagaiaan ayahnya. Namung sang prabu menjelaskan bahwa keturunannya masih berhak atas tahta itu dan akan menututnya dikemudian hari. Bisma kemudian bersumpah dihadapan para dewata bahwa dia selamanya tidak akan menikah dan tidak akan mempunyai keturunan. Seketika petir menyambar dari langit, menandakan bahwa para dewata telah menyetujui sumpah Bisma. Para dewata memberi gelar Dewabharata kepada Bisma atas pengorbanannya yang besar dan Bisma diperbolehkan memilih waktu kematiannya sendiri. Setelah mendengar sumpah Bisma, Prabu Santanu kemudian berangkat untuk menyunting dewi Setyawati. Setyawatipun menjadi kagum kepada Bisma dan bersedia menjadi permaisuri Hastina.

Setyawati melahirkan dua orang putra, Citragada dan Wicitrawirya. Sesuai dengan janjinya, prabu Santanu menyerahkan tahta Hasina kepada Citragada sementara Bisma menjadi penasihat kerajaan. Citragada merupakan ksatria yang gagah sakti, ilmu yang diajarkan Bisma telah diserap semuanya. Sayangnya, Citragada menjadi sombong dan mulai menantang kesaktian raja2 disekitar Hastina.

Bisma sebagai penasihat tidak bisa berbuat apa2 dan tidak lama Hastina telah menaklukkan negara2 tetangga. Tindakan Citragada yang dianggap merusak kedamaian telah mendapat perhatian para dewata yang kemudian mengirim seorang raja raksasa untuk menaklukkan Citragada. Sang raja raksesa turun ke mayapada dan menyamar sebagai Citragada untuk menantangnnya. Citragada terkejut melihat kembarannya menantang bitotama. Keduanya kemudian mulai bertarung dengan serunya. Pada awalnya mereka terlihat seri, tapi kemudian Citragada gadungan mengeluarkan kesaktiannya dan dalam sekejap Citragada yang asli telah terkapar tak bernyawa.

Para ponggawa yang menyaksikan pertarungan ini bersorak2 karena mereka mengira bahwa Citragada gadungan yang telah perlaya. Citragada gadungan kemudian menjelaskan bahwa yang perlaya ialah Citragada asli dan melesat kembali ke kahyangan.

Dengan gugurnya Citragada, Wiciyacitra diangkat sebagai raja Hastina. Wicitrawirya tidak sakti seperti Citragada dan menurut kepada Bisma. Setyawati sebagai sang ibu menjadi khawatir dengan keturunannya karena Citragada meninggal tanpa keturunan sementara Wicitrawirya tidak sesakti kakaknya sehingga sulit untuk meminang putri. Setyawati menyampaikan kekhawatirannya kepada Bisma dan Bisma berkata bahwa dia akan pergi untuk meminang ketiga putri dari kerajaan Kasi yang sedang mengadakan sayembara untuk mencari suami. Dewi Amba, Ambalika dan Ambika terkenal kecantikkannya dan banyak ksatria dan raja yang datang untuk meminangnya.

Ketika tiba, Bisma segera menuju ke tengah lapangan dan dengan nyaring menyatakan bahwa ketiga putri akan dibawa ke Hastina olehnya, jika ada yang tidak setuju silahkan maju menantang dirinya. Para kstaria dan raja yang hadir menjadi terhina dan segera menantang Bisma, tapi satu persatu mereka dikalahkan oleh kesaktian Bisma.

Kemudian datang seorang ksatria bernama Salya yang sebenarnya adalah kekasih Dewi Amba. Salya merupakan ksatria yang sakti namun kesaktiannya masih dibawah Bisma, berkali2 dirinya dipaksa mencium tanah oleh Bisma. Namung Salya tidak menyerah dan terus menyerang, Bisma akhrinya menjadi bosan dan berniat mengakhiri pertarungan. Dengan sebuah pukulan dashyat dari Bisma, Salya terkapar tak bernyawa.

Melihat kesaktian Bisma, tak ada lagi yang berani menantang Bisma dan ketiga putri Kasi dibonyong Bisma ke Hastina. Setibanya di Hastina, ibu Setyawati gembira melihat Bisma berhasil membawa ketiga putri sebagai menantunya. Ambika dan Ambalika langsung tertarik oleh Prabu Wiciyactira, kecuali dewi Amba yang mencintai Salya. Dewi Amba kemudian datang menuntut kepada Bisma untuk mengawini dirinya karena sebenarnya Bismalah yang telah membunuh Salya pujaan hati Dewi Amba.

Bisma yang telah bersumpah untuk tidak menikah segera menolak Dewi Amba, namun Dewi Amba bersikeras kepada Bisma untuk melakukan hal yang benar. Untuk menakut nakuti Dewi Amba, Bisma mengeluarkan panah pusakanya dan mengancam Dewi Amba untuk menikahi Wicitrawirya. Tak diduga, Dewi Amba tiba tersandung dan tubuhnya tertusuk panah Bisma.

Sebelum Dewi Amba menghembuskan napas akhirnya di pangkuan Bisma, Amba memohon pada dewata agar dapet menitis kembali ke mayapada dan pada saat itu dirinya akan datang menjemput Bisma untuk hidup bersama di kahyangan. Para dewata menyetujui permohonan Dewi Amba dan dikemudian hari roh Dewi Amba akan menitis kepada Srikandi anak Prabu Drupada dan Dewi Gandawati dari Pancala (saudara Drupadi dan Drestajumena).

Dewi Ambalika dan Ambika bersedih mendengar bahwa kakaknya telah meninggal namun segera terlupakan karena mereka bahagia menjadi istri Prabu Wicitrawirya. Sayangnya, Prabu Wiciyacitra meninggal sebelum mempunyai keturunan. Akibatnya, Hastina tidak memiliki raja dan untuk sementara Bisma bertugas untuk mengurus kerajaan. Ibunda Setyawati yang kebingungan meminta tolong anak sulungnya, Begawan Abiyasa.

Begawan Abiyasa merupakan orang yang sangat sakti dan arif bijaksana tapi penampilannya mengerikan, kulitnya hitam, rambutnya gembel, badannya bau amis, matanya buta satu dan kakinya pincang. Oleh ibunda Setyawati, diatur supaya Begawan Abiyasa membuahi Dewi Ambalika dan Ambika. Namun kedua putri itu terkejut ketika melihat penampilan Begawan Abiyasa, Dewi Ambalika menutup matanya terus sementara Dewi Ambika memalingkan mukanya.

Begawan Abiyasa memang sakti, tak lama kemudian tampak bahwa kedua Dewi telah berbadan dua. Ketika lahir, kedua bayi mempunyai kelainan. Anak yang sulung lahir buta karena Dewi Ambalika terus menerus menutup matanya dan diberi nama Dasarata. Anak kedua lahir dengan tubuh putih pucat pasi karena Dewi Ambika yang pucat melihat Begawan Abiyasa dan juga kepala agak tengeng sedikit akibat memalingkan kepala diberi nama Pandu. Ibunda Setyawati menjadi kecewa dan meminta Abiyasa untuk memberi satu anak lagi.

Kedua dewi terkejut mendegar berita ini kemudian mereka mempunyai rencana untuk mendadani seorang pelayan sudra untuk menggantikan mereka. Begawan Abiyasa yang sakti dan bijaksana mengetahui tipu muslihat mereka tapi berpesan kepada Ibunda Setyawati untuk memperlakukan anak itu seperti anaknya sendiri karena bagaimanapun juga anak itu adalah anak Abiyasa.

Ketika lahir, putra ketiga ini diberi nama Widura. Begitulah ceritanya leluhur pendawa, keturunan Dasarata adalah Kurawa sementara Pandu berketurunan Pendawa Lima.

About sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 23 September 2012, in Budaya Jawa, Wayang. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: