RRI Ngayogyakarta “Kethoprak Aryo Penangsang”


Oleh : Galuh Suryananta

Secara historis, Arya Penangsang sebenarnya memiliki hak atas Bumi Pajang.  Akan tetapi justru Hadiwaijaya yang menduduki tahta Pajang atas kehendak mendiang Raden Patah, atas jasa Hadiwaijaya (Jaka Tingkir) ketika itu.  Atas dasar itulah maka, Arya penangsang selaku penguasa  Kadipaten Jipang tidak mau lagi hadir di pisowanan agung Sultan Hadiwijaya.  Kehendak Arya Penangsang ini mendapatkan dukungan dari ayahnya, Sunan Kudus.  Dukungan kepada Arya Penangsang ini bukan hanya berupa politis tetapi  juga takstis.

Mengingat Sultan Hadiijaya memiliki kesaktian yang luar biasa, maka Sunan Kudus berupaya untuk menghadirkan Sultan Hadiwijaya, dengan maksud untuk bisa dibunuh oleh Arya Penangsang.  Langkah yang diambil oleh Sunan Kudus adalah berpura-pura mengundang Penguasa Pajang ini untuk hadir di Panti Kudus.  Alih-alih mendapat ilmu baru dari Sunan Kudus, Hadiwijaya justru akan dilemahkan secara mistis.  Ia diminta duduk di kursi yang disiapkan oleh Sunan Kudus dimana kursi tersebut telah diberi rajah darubeksi yang bisa melunturkan kesaktian siapapun yang menduduki kursi tersebut.

Kadang sulit sekali memahami sifat Sunan Kudus.  Bagaimana mungkin ia mendukung niat Harya Penangsang  untuk merebut Kekuasaan Sunan Hadiwijaya di Pajang.  Sementara, Harya Penangsang sudah sudah memiliki kekuasaan di Jipang Panolan.  Tapi begitulah kenyataan yang terjadi.  Sejarah akhirnya mencatat bahwa upaya  kudeta yang dilakukan Harya Penangsang tidak berhasil.

Kembali pada cerita yang kali ini saya upload.  Sultan hadiwijaya benar hadir di Panti Kudus.  Harya penangsang mempersilahkan Sultan Hadiwijaya duduk di kursi yang telah dipersiapkan.  Hampir saja Sultan Hadiwikaya terjebak untuk duduk dikuri yang penuh dengan rajah itu jika saja Ki Ageng Pemanahan tidak mencegahnya.  Berulang kali dengan berbagai cara Harya Penangsang mempersilahkan adik kemenakannya itu duduk di kursi, tapi Hadiwijaya tetap tak bergeming.  Akhirnya, dengan amarah luar biasa, Harya Penangsang menduduki kursi tersebut.  Tak pelak, dia terkena rajah dan akan kalah dalam peperangan selama empat puluh hari kedepan.  Pada saat bersamaan, datang sunan Kudus yang tengah melihat Arya Penangsang memegang keris.  Dia member “sasmita” agar keris itu disarungkan, tetapi penguasa Jipang Panolan yang sedang dikuasai amarah ini tidak tanggap sehingga ketika ia memiliki kesempatan untuk menikan Hadiwijaya dengan restu Sunan Kudus, justru keris disarungkan dalam arti yang sebenarnya. Sadar atas kekeliruannya, Arya Penangsang berniat menyusul Hadiwijaya untuk menuntaskan niatnya membunuh adik kemenakan itu.  Tetapi Sunan Kudus mengingatkan bahwa, rajah sakti sudah masuk kedalam tubuhnya sehingga mustahil bisa menang perang dalam empat puluh hari kedepan.  Yang justru harus dilakukan adalah bertapa untuk menghilangkan rajah yang sudah menyatu dengan dirinya.  Empat puluh hari tanpa makan, tanpa minum, tanpa tidur dan tanpa marah adalah harga yang harus dibayar oleh Harya Penangsang.

Sementara itu, di Gunung Danaraja, ratu Kalinyamat tengah menjalankan ritual samadinya bersama dua kemenakannya Rara Semangkin dan Rara Prihatin.  Dua gadiis belia ini adalah putra mendiang Pangeran Prawata yang tewas di tangan Harya penangsang.  Ratu Kalinyamat berada di tempat ini dan melakukan ritual bertapa telanjang (dalam arti sebenarnya) karena upayanya membalas dendam atas kematian adiknya, Pangeran Prawata.  Tekadnya sudah bulat bahwa dia tidak akan mengenakan busana dan kembali ke Kadipaten Jepara sebelum berhasil membalas dendam kepada Harya Penangsang.

Ketika itu Ki Ageng Pemanahan tengah hadir ke Gunung Danaraja dan menghadap Ratu Kalinyamat.  Kedatangan sebenarnya ketempat ini sebenarnya adalah terdorong oleh rasa kasihan dan prihatin atas keadaan Ratu Kalinyamat.  Kakak mendiang Sunan Prawata ini tidak akan mungkin bisa kembali ke Jepara jika tidak ada campur tangan orang lain untuk membunuh Harya Penangsang.  Sebagai seorang perempuan tanpa dukungan politis dari siapapun, mustahil Kalinyamat bisa memenuhi sumpahnya. Keberadaan Semangkin dan Prihatin akan dipergunakan sebagai alat untuk membujuk Sultan Hadiwijaya.  Harapannya, Sultan Hadiwijaya yang sebentar lagi akan hadir ke Gunung Danaraja dipastikan akan jatuh hati kepada Semangkin dan Prihatin.  Skenarionya adalah, kedua gadis ini akan diminta untuk meminta mas kawin yang berupa kepala Adipati Jipang Panolan jika Sunan Hadiwijaya berniat meminangnya.

Berhasilkah Skenario Ki Ageng Pemanahan?  Benarkah nantinya Sultan Hadiwijaya benar-benar jatuh hati kepada puteri mendiang Sunan Prawata? Bersediakan Semangkin dan Prihatin diboyong ke Pajang?  Semua tahu bahwa akhirnya Harya Penangsang gugur di tangan Sutawijaya, Putra Hadiwijaya.  Tapi bagaimana ceritanya?

Ikuti saja ceritanya dalam versi Kethoprak yang dengan manis dibawakan oleh Keluarga Kethoprak Mataram RRI Yogyakarta………….

  1. Harya penangsang Gugur 1
  2. Harya penangsang Gugur 2

Mp4 dapat diunduh Disini

About sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 13 Oktober 2012, in Budaya Jawa, Jogjakarta, Kethoprak, Mp3 Jadoel, RRI Jogja, Seni Tradisi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: