GREBEG PANGAN SEHAT DI SOLO 40 Gunungan Ludes Dalam Sekejab


Dalam waktu sekejab, sekitar 40 gunungan aneka jenis makanan olahan dalam rangkaian Grebeg Pangan memperingati hari Pangan se-Dunia, ludes diserbu massa yang menyesaki arena Solo Car Free Day (SCFD), Minggu (14/10). Bahkan sebagian gunungan yang dikirab dari Lapangan Kota Barat hingga Plasa Taman Sriwedari, keburu jadi rebutan ribuan warga sebelum tiba di garis finish.

Sejak awal, aneka jenis makanan yang dirangkai membentuk gunungan itu, jelas Kepala Kantor Ketahanan Pangan (KKP) Solo, Rochana, memang dibagi-bagikan kepada warga setelah dikirab. Hanya saja, karena pengunjung SCFD yang berbilang puluhan ribu, rencana membagikan makanan kepada warga sulit dilakukan, sebab mereka begitu saja berinisiatif saling berebut. Tak lebih dari satu menit, gunungan makanan itupun tinggal menyisakan rangka.

Seluruh makanan yang disajikan merupakan pangan olahan lokal sehat, tambahnya, dan diarahkan sebagai bentuk kampanye agar masyarakat membiasakan diri mengkonsumsi makanan sehat berbahan baku hasil bumi lokal. Betapa Indonesia sebenarnya sangat kaya akan potensi pangan, namun dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat justru terkondisikan dengan makanan impor yang tak jarang mengandung bahan pengawet.

Kondisi seperti itu menuntut penyadaran baru bagi masyarakat, ujarnya, hingga suatu saat nanti makanan olahan lokal sehat, kembali berjaya, dan membawa dampak peningkatan ekonomi rakyat. Jika pangan lokal sehat mampu tumbuh menjadi komoditas handal, bukan saja meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga pertumbuhan industri pangan yang pada akhirnya bermuara pada penyerapan tenaga kerja.

Di sisi lain, kirab Grebeg Pangan yang diikuti tujuh daerah di wilayah Solo Raya ini, memberikan hiburan tersendiri bagi pengunjung SCFD di sela aktivitas berolahraga pagi. Hanya saja, perjalanan kirab acapkali tersendat, karena harus berebut jalur dengan pengunjung SCFD. “Tak masalah, tujuan Grebeg Pangan memang memberi edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat, sehingga ketika barisan kirab tertahan, justru memberi kesempatan kepada warga untuk mencermati jenis-jenis makanan sehat yang terrangkai pada gunungan,” ujar Rochana.

About sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 14 Oktober 2012, in Berita, Budaya Jawa, Seni Tradisi, Solo. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Kanthi grebeg gunungan didhahar sesarengan mujudaken kerukununan saling berbagi , bilih budaya jawi punika budaya adiluhung ingkang wajib kito lestantunaken supados mboten kagiles budaya manca ( amerika,eropa,timurtengah,afrika, lsp) .

  2. Inggih, Kula tumut seneng, awit para manca lan muda ing Indonesia remen budaya jawa…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: