Pengertian 1 Suro (Pergantian Tahun Baru Jawa)



Satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro dimana bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriyah, karena Kalender jawa yang diterbitkan Sultan Agung mengacu penanggalan Hijriyah (Islam). Satu suro biasanya diperingati pada malam hari setelah magrib pada hari sebelum tangal satu biasanya disebut malam satu suro, hal ini karena pergantian hari Jawa dimulai pada saat matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam. Satu Suro memiliki banyak pandangan dalam masyarakat Jawa, hari ini dianggap kramat terlebih bila jatuh pada jumat legi. Untuk sebagian masyarakat pada malam satu suro dilarang untuk kemana mana kecuali untuk berdoa ataupun melakukan ibadah lain.


Tradisi saat malam satu suro bermacam-macam tergantung dari daerah mana memandang hal ini, sebagai contoh Tapa Bisu, atau mengunci mulut yaitu tidak mengeluarkan kata-kata selama ritual ini. Yang dapat dimaknai sebagai upacara untuk mawas diri, berkaca pada diri atas apa yang dilakoninya selama setahun penuh, menghadapi tahun baru di esok paginya.

Tradisi lainnya adalah Kungkum atau berendam di sungai besar, sendang atau sumber mata air tertentu, Yang paling mudah ditemui di Jawa khususnya di seputaran Yogyakarta adalah Tirakatan (tidak tidur semalam suntuk) dengan tuguran (perenungan diri sambil berdoa) dan Pagelaran Wayang Kulit. Diantara tradisi tersebut ada juga sebagian masyarakat yang menggunakan malam satu suro sebagai saat yang tepat untuk melakukan ruwatan.

Malam Siji Syuro Oleh K.H Hardjowigjodiputra

Satu Suro adalah hari pertama tahun penanggalan Jawa di bulan Sura (juga tercantum sebagai “Suro”), sesuai dengan bulan Islam Muharram.  Satu Suro memiliki asosiasi banyak dalam cerita rakyat dan takhayul di Jawa, Indonesia yang bervariasi melalui variasi regional dalam praktek-praktek budaya. Tema umum melalui takhayul kebanyakan merupakan salah satu bahaya yang keluar dari rumah – mirip dengan hari Nyepi Bali. Ada sebuah film Indonesia yang memanfaatkan bahaya – yang disebut Malam Satu Suro
Hari Jawa dimulai pada matahari terbenam dari hari sebelumnya, bukan pada tengah malam – sebagai penekanan konsekuensi yang cukup dibuat dalam ‘menjelang’ dari hari pertama dari bulan Sura.

Ritual selama Satu Suro Malam
Selama Malam Suro Satu, ada beberapa ritual yang bisa dilakukan, seperti:

  1. Meditasi
    Meditasi adalah praktek umum kejawen / Shiva-Budha agama. Tujuannya adalah untuk memiliki self-instropection dari apa yang telah dilakukan dalam satu tahun terakhir dan kemudian untuk mempersiapkan apa yang harus dilakukan di masa depan.
  2. Tapa Bisu
    Untuk bermeditasi ketika sedang diam dan tidak berbicara selama ritual
  3. Tapa Kungkum
    Untuk bermeditasi sambil menenggelamkan dalam air
  4. Tirakatan dan tuguran
    Tindakan tidak tidur sepanjang malam sementara memiliki refleksi diri dan doa, disertai dengan kinerja Wayang
  5. Ruwatan
    ritual untuk membebaskan lingkungan (misalnya dari sebuah bangunan, rumah atau area) dari roh jahat dan malapetaka.

Contoh film 1 suro Indonesia yaitu Malam 1 Suro 1988

About these ads

Tentang sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 14 November 2012, in Budaya Jawa, Jawa Timuran, Jogjakarta, Seni Tradisi and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: