Cerita Rakyat Jogjakarta – Dumadining Kali Gajah Uwong



Tinggal tak jauh dari Kali (Sungai)  Gajah Wong di sekitar Jalan Adisucipto Yogyakarta, baru beberapa hari yang lalu saya tahu asal-usul nama kali tersebut. Disebelah barat jembatan bagian utara Kali Gajah Wong yang membelah jalan Adisucipto terdapat museum pelukis ternama sang maestro Affandi.  Selain itu Kali Gajah Wong  membelah tengah Kota Yogyakarta dari Gembira Loka, Kota Gede, Gejayan di utara.  Asal usul nama kali Gajah Wong konon terjadi  karena  suatu peristiwa yang sangat dahsyat berupa banjir tiba-tiba  di zaman kerajaan Mataram pada masa diperintah oleh Raja Sultan Agung.

Pada abad ketujuhbelas, kali ini merupakan kali yang kecil. Masyarakat di situ menyebutnya sebuah kalen, yang artinya kali kecil. Dan kebetulan airnyapun hanya gemercik mengalir sedikit sekali. Pada suatu hari Sultan memanggil seorang pawang gajah yang beranama Dwipa. “Dwipa, cobalah kau mandikan gajah itu hingga bersih”. “Ok…. hamba akan kerjakan kehendak Gusti” jawab sang pawang.

“Di kali sana, yang airnya bening sekali,” sabda Sultan lagi.  “Demi Sultan, akan segera kukerjakan perintah ini”.  Begitulah tugas harian sang pawang, hingga suatu hari pawang tidak bisa menjalankan tugasnya karena sedang sakit sehingga dia mengutus asistennya yang bernama Kerti untuk memandikan gajah milih sultan. Pawang memberi tahu tempat memandikannya di kali dekat kerajaan. Melihat hasil pekerjaan yang memuaskan lain hari sang pawang menyuruh lagi Kerti untuk memandikan gajah, namun kali ini sang Pawang  berpesan agar memandikannya agak ke utara yang airnya banyak.

Sampailah Kerti di tempat yang diberi tahu oleh sang Pawang, tempat tersebut nyaman, airnya sejuk dan sang gajah dapat berendam dengan leluasa. Sambil menggosok-gosok tubuh gajah Kerti mengumpat kalo sang pawang dan sultan hanya mengerjainya, kenapa dari dulu tidak menunjukkan tempat ini yang airnya banyak. Kemarin-kemarin beberapa  kali Kerti harus kesulitan membersihkan tubuh sang gajah dengan sedikit air yang mengalir, tak henti-henti Kerti berkeluh kesah dan mengumpat hingga akhirnya terdengarlah halilintar kemudian langit menjadi gelap dan hujan badai turun dengan tiba-tiba. Air kali pun menjadi banyak dan Kerti makin senang hingga Kerti tidak dapat menguasai diri dan lupa kalo arus deras dapat menghanyutkannya. Akhirnya terjadilah hal itu Kerti dan gajah milik sultan hanyut terbawa banjir sampai ke laut selatan.

Sultan pun mendengar peristiwa ini, sebagai pengingat kejadian tersebut Sultan berucap “Kuberi nama aliran kali ini dengan nama Kali Gajah Wong, karena telah menghanyutkan orang (wong) dan gajah”.

About these ads

Tentang sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 18 November 2012, in Jogjakarta and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: