Yesus Dalam Inkulturasi Budaya Jawa


Screenshot Studio capture #356

Candi ganjuran dan asal-usulnya sudah pernah saya posting Disini. Beberapa orang duduk bersila, dan menundukkan kepala menghadap utara ke sebuah bangunan candi. Ada yang menaiki tangga candi, duduk sambil menatap wajah rupawan dengan mahkota raja. Sedangkan cahaya lilin menerangi wajah para peziarah yang duduk berdoa. Suasana hening dan semilir angin laut berhembus menerpa wajah para peziarah. Dan sayup-sayup terdengar gamelan dan gending Jawa. Sebuah candi kecil menghadap ke selatan dan didalamnya terdapat patung dengan posisi duduk berpakaian kebesaran raja. Dialah SANG MESIAS, raja semesta alam yang menjadi penyelamat manusia. Candi ini bernama Hati Kudus Yesus. Candi yang bercorak Hindu-Jawa ini masuk wilayah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Melihat kembali beberapa tahun silam, daerah ini terdapat pabrik gula gondang lipuro. Pabrik gula ini dibangun oleh keluarga Belanda yang bernama G. Schmutzer yang beragama Katolik. Sebagai keluarga Katolik yang taat, maka sebagai wujud solidaritasnya, dibangunlah rumah sakit, sekolah. Perkembangan agama Katolik lambat laun mulai diterima oleh penduduk sekitar. Maka keluarga ini mulai membangun gereja Katolik bagi masyarakat sekitar.

Kemudian sejak kapan candi ini dibangun? Gereja Katolik pada hakekatnya mengakui adanya unsur-unsur kebudayaan setempat, dan dalam masyarakat juga terdapat nilai-nilai serta pesan moral kemanusiaan, serta religius yang kiranya harus dilestarikan. Maka Schmutzer terinspirasi untuk membangun sebuah candi berarsitektur Hindu Jawa. Apa yang menarik dari tempat peziarahan ini? Disini nampak perpaduan gaya arsitektur Hindu Jawa dengan agama Katolik. Selain itu unsur Hindunya nampak pada petirtaan yang ada di sekeliling candi.

Pada umumnya candi Hindu banyak ditemukan saluran air atau kolam air sebagai simbol kesucian. Maka sejak ditemukannya aliran air dibawah candi ini menambah keselarasan antara unsur Hindu dan Kekatolikannya. Air ini kemudian dimanfaatkan oleh peziarah untuk membersihkan diri. Namun menurut beberapa cerita para peziarah, setelah membasuh atau meminum air ini, penyakit yang pernah diderita bisa sembuh. Terlepas sembuh tidaknya, masyarakat tetap percaya dengan khasiat dari air ini. Selebihnya tempat peziarahan yang banyak terdapat pohon sawo keciknya ini selalu menarik untuk dikunjungi.

Kemudian dari segi Iman Katolik, candi ini merupakan sarana rohani bagi umat yang mencoba menemukan semangat hidup. Semangat hidup perlu dipupuk terus, maka candi HKTY ganjuran menawarkan nuansa yang sesuai. Selain itu Yesus dalam pakaian kebesaran layaknya raja Jawa menyatakan bahwa kehadirannya dipenuhi rasa cinta yang konkret melewati batas budaya masing-masing tanpa pandang bulu. Melalui kunjungan atau ziarah, umat diajak untuk selalu memupuk hidup rohani, meningkatkan doa dan ibadat. Secara khusus devosi terhadap Hati Kudus Yesus yang selalu memancarkan sinar keilahian bagi siapa saja yang membuka hati bagi kehadiranNya.

Maka dihari Natal ini, menjadi moment menarik untuk kembali pada kemurnian hati. Agar kita selalu dekat dengan Allah yang peduli bagi umatNya. Selamat Natal…….

Posted on 11 Desember 2012, in Berita, Budaya Jawa, rohani and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: