Arsip Kategori: Ki Nartosabdo

Ki Nartosabdho – Parikesid Lahir Versi Singo Barong


Parykesid Lahir

Perang Baratayudha usai sudah

Perang yang telah merengut ribuan prajurit-prajurit pilihan yang hanya mengikuti panggilan negara dan perintah senopati, menghadirkan penderitaan dan sengsara bagi semua.

Perang yang telah menghilangkan nyawa ratusan para satria pinunjul yang saling bertarung mempertahan harga diri dan mengumbar kedigdayaan, menyisakan perih dan duka yang dalam.

Perang yang mempertahankan sejengkal hak atas kepemilikan negara oleh para penguasa, begitu banyak mengorbankan jiwa, raga dan airmata bersimbah darah.

Perang yang mengatasnamakan perjuangan dan kebenaran, telah menghancurkan persaudaraan dan meluluhlantakan bangunan-bangunan kasih sayang.

Perang Baratayudha telah menguras habis airmata Kunthi. Perang itu semakin menyayat hatinya hingga terasa luka seperih-perihnya. Duka kembali mnyeruak manakala mengingat kembali pertarungan antara Karna dan Arjuna, dua orang putranya yang gagah rupawan. Dan seperti yang disaksikannya kemudian, salah satunya kemudian menuemui ajal ditangan yang lawannya. Hati ibu mana tiada perih menyaksikan perseteruan antara Saudara sendiri yang berujung pada ajal menjemput. Hati ibu mana yang tidak merintih, saat menerima kabar satu persatu anak-anaknya berguguran terbunuh.

Perang memang kejam. Dimana-mana tidak ada kebahagiaan yang tercipta dalam perang.

Begitu-pun para Pandawa. Meskipun kemenangan mereka genggam atas saudaranya Kurawa, namun sesudahnya hati tetap merana. Saat merunut kembali kisah masa lalu bersama para Saudara satu darahnya. Meskipun acap dan sepanjang hidupnya mereka selalu dizalimi, namun itulah yang mendewasakan mereka. Ibarat pupuk, semakin menyuburkan kebijaksanaan mereka dalam menyikapi hidup dan menjalaninya.

Namun semua telah terjadi, semua telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Kehidupan harus berlanjut. Puing-puing berserakan harus ditata ulang tuk menjadi bangunan nan megah dan menyenangkan.

Hati-hati yang luka harus segera terobati. Jiwa-jiwa yang merana harus segera menemukan kesegaran. Dan hidup kemudian harus lebih baik.

Semangat itulah yang dihembuskan oleh Kresna dan Baladewa kepada para Pandawa dan keluarganya. Semangat tuk segera keluar dari rasa sesal dan menatap masa depan cemerlang. Semangat yang berlandaskan bahwa, segala kemuliaan butuh pengorbanan asalkan perjuangannya tetap berada dalam rel kebenaran.

Memang … mudah dikatakan namun sangat sulit untuk menerima kepahitan bila itu dirasakan sendiri. Arjuna, satria penengah Pandawa, kehilangan begitu banyak orang-orang terkasih. Salah satunya adalah putra kesayangannya, Abimanyu. Abimanyu tewas mengenaskan sementara istrinya, Dewi Utari tengah mengandung buah cintanya.

Ya … saat perang usai dan menimbulkan banyak persoalan baru, seorang bayi terlahir kedunia.

Sumangga Nikmati

Sumber: Http://wayangprabu.com//

Ki Narto Sabdo “Pendhawa Ngenger”


WAYANG KULIT MP3
Lakon : Pendhawa Ngenger
Dalang : Ki Narto Sabdo
Format : MP3, 122 kbps 44100 (16 file tamat)
Sumbangan : Bp. Widjanarko Jogja

Abilawa

SINOPSIS PANDHAWA NGENGER

Oleh : Widjanarko

Dalam pisowanan agung di Negara Hasitina , yang dihadiri oleh para petinggi kerajaan tersebut diantaranya Resi Bisma, Pendita Durna, patih Sengkuni, adipati Karno dan lain2 memikirkan masa depan kerajaan Hastina dalam menghadapi musuh bebuyutannya yaitu Pandawa. Duryudono sang raja menganggap bahwa Pendita Durna tdk adil dalam memberikan ilmu kadigdayan bagi sanak saudaranya, pendita Durna dianggap oleh Duryudono pilih kasih dalam memberikan ilmunya.Tapi dengan ikut bicaranya adipati Karno timbulah semangat angkara murka sang Duryudana untuk berbuat licik kepada saudara saudaranya sendiri yaitu Pandawa. Tetapi Adipati Karno tidak sependapat dengan rencana licik yang akan dibuat oleh Duryudono yang dianggap jauh dari peri kemanusiaan, sampai sampai Adipati Karno walk out dari pasewakan agung.

matswapatiDidorong oleh sang maha patih Sengkuni sang maha julik maka Prabu Duryudana mengadakan perjamuan dengan mengundang anggota keluarga Pendawa yang masih menjalani hukuman atas kekalahannya bermain dadu, dengan jamuan makanan bekas dan minuman memabukkan. Karena pengaruh minuman terjadilah perang antara kedua belah pihak, sebelum terjadi korban datanglah Destarata melerai peperangan tersebut. Oleh Destarata Pandawa diminta untuk menyingkir dari Astina agar peperangan tidak berlanjut, akan tetapi pihak Kurawa walaupun sudah dicegah oleh adipati Karno tetap saja mengejar Pandawa untuk dihabisi.

Pada adegan goro goro Harjuna yang diikuti oleh para punokawan, dikisahkan Harjuna kedatangan dewa/ betara Indra atas prakarsa betara Indra Harjuna diajak ke kahayangan. Di Kayangan Harjuna dipertemukan oleh beberapa betari salah satunya adalah betari Uruwasi, melihat ketampanan Harjuna, betara Uruwasi fall in love kepada raden Harjun. Tetapi kepada betari Uruwasi, raden Harjuno yang terkenal play boy tidak tergoyahkan oleh rayuan betari Uruwasi, karena betari Uruwasi merasa terhina maka marahlah betari Uruwasi dengan mengucapkan sumpah serapah agar kelaki lakian Harjuno tidak berfungsi ( tentunya untuk sementara waktu).

Betara IndraAtas petunjuk betara Indra, Harjuna dan saudara2nya diminta untuk suwito (ngenger) ke Kerajaan Wirata dengan menyamar sebagai orang sudra (rakyat jelata). Dengan berganti nama, Puntadewa memakai nama Kanta, Werkudoro sebagai Balawa, Harjuna sebagai Wrihatmolo, Nakula dan Sadewa sebagai Tripala dan Grantika, sedangkan Drupadi beralih nama menjadi Salindri atau Endang Malini.

Sebelum berangkat menuju kerajaan Wirata mereka berganti busana layaknya rakyat jelata dan yang menarik adalah busana yang dipakai raden Harjuna, dalam cerita ini ia memakai busana layaknya seorang wanita.

Di kerajaan Wirata sang patih Kencoko dan para hulu balang, antara lain Prahupo Kenco dan Rojo molo berkeluh kesah tentang kerajaan Wirata yang dipimpin oleh Prabu Matsyapati. Sang patih merasa kebesaran nama kerajaan Wirata hanya karena kehebatannya. Maka mereka merencanakan kudeta terhadap prabu Matsyapati. Ketika mereka merencanakan kudeta datanglah keluarga pendawa yang sudah berganti busana dan nama layaknya rakyat jelata. Atas perintah sang patih. keluarga pendawa tidak diperkenankan ngenger ke raja Matsyapati tetapi diminta ngenger ke Kepatihan saja. Dikisahkan patih Kencoko akan berbuat tidak senonoh terhadap Salindri atau Drupadi. Melihat kejadian ini Balawa ( Werkudara ) mendidih darahnya dan dibunuhlah Kencoko.

Terbunuhnya patih Kencoko tidak menjadikan marahnya prabu Matsyapati, tetapi malah diterimanya keluarga pendawa sebagai abdi di kerajaan Wirata tersebut.

Adapun file Pandhawa Ngenger dengan dalang Ki Nartosabdo, dapat anda nikmati disini:

  1. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 01
  2. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 02
  3. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 03
  4. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 04
  5. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 05
  6. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 06
  7. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 07
  8. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 08
  9. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 09
  10. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 10
  11. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 11
  12. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 12
  13. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 13
  14. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 14
  15. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 15
  16. Ki Nartosabdo, Pandhawa Ngenger 16 (tamat)

Catatan:

  1. Cerita dan file ini sebenarnya sudah bisa dinikmasti di Wayang Prabu.com akan tetapi karena berat menerima amanah dari Bp. Wijanarko untuk mengupload file ini, maka tanpa bermaksud mrang tatal mbabak hanganyari, saya upload lagi untuk anda dengan harapan semakin banyak sutresna wayang kulit bisa menikmati karya hebat dari seniman yang tak ada duanya, Ki Nartosabdo.
  2. Lakon ini semula terdiri dari 5 file dalam format ZIP dengan basar file masing-masing 90 MB, maka tanpa mengurangi rasa hormat dan penghargaan kepada Bp. Widjanarko, fili zip tersebut saya udhari dan saya upload lagi menjadi 16 file dengan besar rata-rata 24 MB dengan harapan mempermudah mereka yang koneksi dan bandwidh internetnya kecil.
  3. Terima kasih dan penghargaan kami sampaikan kepada Bp. Widjanarko dan Mas Edy L atas sgala dedikasinya dalam nguri-uri karya besar ki Narto Sabdo.

(Terima kasih anda telah mampir di blog ini. Jika sudah berhasil download file kami, mohon tinggalkan komentar untuk perbaikan selanjutnya)

Gending Nyamleng 5 – Ibu Pretiwi


Kaset tersebut dikeluarkan pada 10 April 1972. Rekaman tanggal trek yang disediakan di bawah ini.
Keluarga Karawitan Studio RRI Surakarta dipimpin oleh P. Atmasunarto, dengan Ki Nartosabdo sebagai konduktor.

Trek 4 & 7 direkam di Semarang – Paguyuban Condong Raos, Ki Nartosabdo disutradarai oleh.

1. Ketawang Ibu Pretiwi, P nem, 16 April 1969. (Download)
Persinden: Sumarmi
Umpak: pengantar.
Air kami telah memberikan cukup makanan dan pakaian bagi orang-orang yang setia dan berdedikasi. Dengan cinta yang mendalam dari umat manusia, dia sangat adil dan adil dan memiliki akhlak mulia. Oleh karena itu, marilah kita melayani dia.
Kedua bagian:
Ini adalah lagu utama. Yang sebelumnya hanya sebuah umpak.
Ini adalah esensi. Ngelik berarti nada tinggi / suara
Jika kita kembali ke iringan untuk upacara pernikahan di daerah Surakarta, ini ngelik (bernyanyi tinggi) digunakan untuk Kirab atau prosesi. Ketika mempelai wanita dan pengantin pria keluar dari ruang ganti, mereka berjalan menuju Pelaminan (podium di mana duduk beberapa pengantin). Lagu ini juga digunakan dalam fragmen menggambarkan Janoko Cakil (Arjuna dan Ogre dengan taring lucu / Buta Cakil). Bagian mana Janoko tarian menggunakan lagu ini. Bagian ini berfungsi sebagai kembangan.

2. Ketawang Subakastawa (Gubahan) atau Rinengga, P nem, 1 Mei 1969. (Download)
Ki Nartosabdo adalah pelopor komposisi. Dia menggunakan lagu-lagu lama banyak yang ia membawa hidup kembali dengan kata-kata baru. Ini adalah contoh
Persinden termasuk Ngatirah dan Sumarmi.
“Ini sangat indah, awan putih di atas gunung. Air yang mengalir jernih mengalir melalui sawah, menyirami tanaman padi, jagung, singkong, kacang-kacangan, dan sorgum. Suara air mengalir. Sah … Sah … Sah, Para petani membuat suara untuk mengusir burung-burung dari makan tanaman. “
Dalam dunia (wayang kulit) pedalangan, lagu ini menyertai sifat lembut dan halus (s Arjuna) Gerakan Janoko itu. Tapi, yang sebelumnya, yang menggunakan kendang ciblon, adalah untuk menemani Semar, Petruk dan Bagong. Repertoar sangat hidup. Ini termasuk vokal pria dan wanita yang dinyanyikan pada gilirannya. Ini adalah ciptaan Nartosabdo. Hal ini menunjukkan pengaruh Barat. Pada waktu itu di tahun 60-an, ini jenis penyajian sebuah lagu di Jawa masih sangat jarang. Sekarang cukup umum.

3. Swara Suling. P nem, 1 Mei 1969. (Download)
Para jenius musik dari Ki Nartosabdo datang ke dalam bermain dengan lagu ini yang dikatakan disarankan kepadanya oleh KRT teman baik nya Wasitodiningrat lebih baik tahu hari ini karena Pak Cokrowasito dari Yogyakarta.
Lagu ada sebagai vokal saja. Kecemerlangan Ki Nartosbdo adalah untuk mengambil melodi 8 mengalahkan sederhana dan menambahkannya dengan bagian instrumental yang menampilkan lima jenis drum.
Karya ini telah menjadi salah satu bagian yang paling dicintai di seluruh Indonesia. Banyak variasi telah dibuat pada tema ini, di antara mereka menjadi indah “gambang suling” versi Bali yang utuh.
Lyric: Suara seruling membawa menemukan dan mencapai telinga pendengar dengan hati sedih. Seruling sering menampilkan kesedihan yang dapat menghibur mereka dalam kesulitan.
Ketiping The, kentrung, Suling dan kendang semua menggabungkan untuk membuat bagian ini hidup. Suara ketat menyebabkan jantung untuk mengalahkan.

4. Rujak Jeruk, Sl M, 4 Mei 1970. (Download)
Persinden: Ngatirah
Karya ini dimulai dengan bawa atau puitis selingan sung. Dalam betina lagu bahagia kadang-kadang menyanyikan bawa seperti terjadi di sini. Dalam musik yang lebih serius yang bawa selalu dinyanyikan oleh laki-laki. Ini bawa dikenal sebagai Sinom Rujak Jeruk. Ini adalah komposisi baru disusun oleh Ki Nartosabdo
Sambil menunggu di pintu untuk suami saya untuk kembali, saya wile waktu dengan mengiris dan memotong buah. Saya membuat rujak (salad buah), tidak lupa untuk mempersiapkan segala sesuatu dengan benar terlebih dahulu. Membuat rujak ini akan menjadi obat untuk kerinduan saya. Saya tambahkan air untuk rujak tersebut. Di dalam Layah (mangkuk-seperti batu mortar digunakan untuk membuat rujak), gula palem merah dan cabai sudah disiapkan. Tidak lama setelah salad saya siap. Saya harap ayah dari anak saya akan pulang.
Lagu ini menggambarkan seorang ibu dan istri yang ditinggalkan oleh suaminya, tapi dia mampu mengatasi “Ini adalah bagaimana saya merasa setelah tidak melihat suami saya untuk waktu yang lama.. Namun, itu tidak masalah asalkan semua kebutuhan kita terpenuhi. Jangan lupa saya sehingga martabat kita tetap terjaga. Anak Anda menangis. Apakah ini tanda bahwa ada sesuatu yang salah? Saya harap Anda selalu ingat saya, jangan biarkan diri Anda tergoda oleh seorang wanita dengan kulit berwarna lebih terang.
Gendhing ini sering digunakan untuk lucu, kinerja menyenangkan. Ketika ada lawak dagelan (pelawak) melakukan, lagu yang dipakai untuk mengiringi para pemain ketika mereka memasuki panggung.

5. Ketawang Suka Asih, PB, dengan Bawa. Sinom Logondhang, 1 Mei 1969. (Download)
Pesinden: Sumarmi
Dimulai dengan Bawa Sinom Logondhang
“Dengan cinta yang mendalam, seorang ibu membawa anaknya ke atas. Ajarkan anak Anda untuk berbicara, “O, bayi saya, jangan menangis. Saya selalu berdoa kepada Tuhan agar semua keinginan Anda mungkin menjadi kenyataan. Namun, anak saya, Anda harus bersedia untuk bekerja keras sehingga ketika Anda tumbuh Anda bisa menjadi pemimpin bangsa yang kita cintai. “

6. Santi Mulya, P5, 4 Desember, 1969. (Download)
Pesinden: Ngatirah
Santi = berdoa kepada Tuhan, Mulya = kemakmuran, dikaruniai kebahagiaan dan kekayaan.
Mengibarkan bendera bangsa kita,
Semoga kemakmuran menang,
Kemakmuran bagi Indonesia sehingga dia selamanya diisi
Dengan tekad yang mulia,
Serikat untuk makmur, dan karakter yang baik
Sehingga bangsa damai
dan ada selamanya, menghadapi ada hambatan.
Lebih sempurna ketika hidup kita berdasarkan Pancasila.
Jadi bangsa kita mulia.

7. Kalongking, P nem, 5 Mei 1970. (Download)
persinden: Ngatirah
Bawa Pucung: Teks yang baru, tapi melodi tua. Ini juga merupakan Ki Natosabdo penciptaan. Kalongking berarti kelelawar besar.
Lagu menjelaskan:
Kelelawar buah terbang ke sana kemari dalam kelompok,
Memilih pohon yang sarat dengan buah.
Mereka bertengkar dan berkelahi untuk buah segera setelah mereka tiba.
Mereka adalah pertempuran terlalu sibuk untuk melihat bahwa perangkap telah ditetapkan.
Hasilnya adalah bahwa mereka jatuh ke dalam perangkap dan tertangkap.

8. Mbok Ya Mesem, Sl sanga, 30 Mei 1969. (Download)
Beri kami senyum
Senyum memberikan kenyamanan bagi orang-orang yang tenang dan agak sedih. Melankolis berbahaya.
Pria itu meminta janji-janji dia dan istrinya dibuat ketika mereka adalah sepasang kekasih muda pacaran masih harus terus baik.
“Mari kita tertawa bersama, dan bekerja dalam cara yang baik dan jujur. Dengan begitu Saya percaya bahwa kita pasti akan mencapai keinginan kita. “

Gending Nyamleng 4 – Lumbung Desa


Paguyuban Karawitan Jawi “Condong Raos”.
Dibawah Pimpinan : Ki Nartosabdho.
Pesinden : Nyi Ngatirah & Nyi Sumiyati.


Side A:
01. Lumbung Desa, Slendro 9. (Download)
02. Lesung Jumengglung, Slendro 9. (Download)
03. Glopa-glape, Slendro 9. (Download)
04. Mbok Yo Mesem, Slendro 9. (Download)
05. Kembang Glepang, Slendro 9. (Download)
06. Kudangan, Slendro 9. (Download)

Side B :
01. Jula-juli Sunba, Slendro 9. (Download)
02. Aja Lamis, Pelog 6. (Download)
03. Mari Kangen, Pelog 6. (Download)
04. Praon (Prau Layar), Pelog 6. (Download)
05. Ngundha Layangan, Pelog 6. (Download)
06. Swara Suling, Pelog Barang. (Download)
07. Jago Kluruk, Pelog Barang. (Download)
08. Caping, Pelog Barang. (Download)
09. Sapu Tangan, Pelog Barang (tidak ada dalam kaset).

Selamat Bernostalgia…

Gending Nyamleng 3 – Gending Banyumasan “Ki Nartosabdho”


Gending-gending Banyumasan karya Ki Nartosabdho
Karawitan : Condong Raos
Pimpinan : Ki Nartosabdho
Waranggana : Nyi Ngatirah, Nyi Suyatmi, Nyi Suryati


Side A :
01. Randha Nunut, Slendro Manyura. (Download)
02. Ricik-ricik Banyumasan, Slendro Manyura. (Download)
03. Kembang Glepang, Slendro 9. (Download)
04. Warudhoyong, Slendro Manyura. (Download)

Side B :
01. Gunungsari Kalibagoran, Slendro Manyura. (Download)
02. Ilogondang Banyumasan, Slendro Manyura. (Download)
03. Eling-eling Banyumasan, Slendro Manyura. (Download)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.