Category Archives: RRI Surakarta

Special Christmas Instrument – Gending Christmas Original Javanese Classical


Gending Christmas 3

Ini merupakan album Gending Christmas (Natal) yang dimainkan dalam versi  balungan. Selamat menikmati :)

  1. silent night
  2. joy to the world
  3. mary’s boy child
  4. whispering hope
  5. when a child is born
  6. jingle bells
  7. we wish you a merry christmas
  8. gloria (in excelsis Deo)
  9. the first noel
  10. brahms lullaby
  11. auld lang syne

 “SUGENG RIYADI WIYOSAN DALEM GUSTI YESUS 2012 & WARSO ENGGAL 2013”

Cerita Rakyat Nyi Roro Kidul


 

Di suatu masa, hiduplah seorang putri cantik bernama Kadita. Karena kecantikannya, ia pun dipanggil Dewi Srengenge yang berarti matahari yang indah. Dewi Srengenge adalah anak dari Raja Munding Wangi. Meskipun sang raja mempunyai seorang putri yang cantik, ia selalu bersedih karena sebenarnya ia selalu berharap mempunyai anak laki-laki. Raja pun kemudian menikah dengan Dewi Mutiara, dan mendapatkan putra dari perkawinan tersebut. Maka, bahagialah sang raja. Dewi Mutiara ingin agar kelak putranya itu menjadi raja, dan ia pun berusaha agar keinginannya itu terwujud. Kemudian Dewi Mutiara datang menghadap raja, dan meminta agar sang raja menyuruh putrinya pergi dari istana. Sudah tentu raja menolak. “Sangat menggelikan. Saya tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putriku”, kata Raja Munding Wangi. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara pun tersenyum dan berkata manis sampai raja tidak marah lagi kepadanya. Tapi walaupun demikian, dia tetap berniat mewujudkan keinginannya itu. Pada pagi harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang dukun. Dia ingin sang dukun mengutuk Kadita, anak tirinya. “Aku ingin tubuhnya yang cantik penuh dengan kudis dan gatal- gatal. Bila engkau berhasil, maka aku akan memberikan suatu imbalan yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya.” Sang dukun menuruti perintah sang ratu. Pada malam harinya, tubuh Kadita telah dipenuhi dengan kudis dan gatal-gatal. Ketika dia terbangun, dia menyadari tubuhnya berbau busuk dan dipenuhi dengan bisul. Puteri yang cantik itu pun menangis dan tak tahu harus berbuat apa. Ketika Raja mendengar kabar itu, beliau menjadi sangat sedih dan mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan penyakit putrinya. Beliau sadar bahwa penyakit putrinya itu tidak wajar, seseorang pasti telah mengutuk atau mengguna-gunainya. Masalah pun menjadi semakin rumit ketika Ratu Dewi Mutiara memaksanya untuk mengusir puterinya. “Puterimu akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri,” kata Dewi Mutiara. Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, akhirnya beliau terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya ke luar dari negeri itu. Puteri yang malang itu pun pergi sendirian, tanpa tahu kemana harus pergi. Dia hampir tidak dapat menangis lagi. Dia memang memiliki hati yang mulia. Dia tidak menyimpan dendam kepada ibu tirinya, malahan ia selalu meminta agar Tuhan mendampinginya dalam menanggung penderitaan.. Hampir tujuh hari dan tujuh malam dia berjalan sampai akhirnya tiba di Samudera Selatan. Dia memandang samudera itu. Airnya bersih dan jernih, tidak seperti samudera lainnya yang airnya biru atau hijau. Dia melompat ke dalam air dan berenang. Tiba-tiba, ketika air Samudera Selatan itu menyentuh kulitnya, mukjizat terjadi. Bisulnya lenyap dan tak ada tanda- tanda bahwa dia pernah kudisan atau gatal-gatal. Malahan, dia menjadi lebih cantik daripada sebelumnya. Bukan hanya itu, kini dia memiliki kuasa untuk memerintah seisi Samudera Selatan. Kini ia menjadi seorang peri yang disebut Nyi Roro Kidul atau Ratu Pantai Samudera Selatan yang hidup selamanya. Kanjeng Ratu Kidul = Ratna Suwinda Tersebut dalam Babad Tanah Jawi (abad ke-19), seorang pangeran dari Kerajaan Pajajaran, Joko Suruh, bertemu dengan seorang pertapa yang memerintahkan agar dia menemukan Kerajaan Majapahit di Jawa Timur. Karena sang pertapa adalah seorang wanita muda yang cantik, Joko Suruh pun jatuh cinta kepadanya. Tapi sang pertapa yang ternyata merupakan bibi dari Joko Suruh, bernama Ratna Suwida, menolak cintanya. Ketika muda, Ratna Suwida mengasingkan diri untuk bertapa di sebuah bukit. Kemudian ia pergi ke pantai selatan Jawa dan menjadi penguasa spiritual di sana. Ia berkata kepada pangeran, jika keturunan pangeran menjadi penguasa di kerajaan yang terletak di dekat Gunung Merapi, ia akan menikahi seluruh penguasa secara bergantian. Generasi selanjutnya, Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Ke-2, mengasingkan diri ke Pantai Selatan, untuk mengumpulkan seluruh energinya, dalam upaya mempersiapkan kampanye militer melawan kerajaan utara. Meditasinya menarik perhatian Kanjeng Ratu Kidul dan dia berjanji untuk membantunya. Selama tiga hari dan tiga malam dia mempelajari rahasia perang dan pemerintahan, dan intrik-intrik cinta di istana bawah airnya, hingga akhirnya muncul dari Laut Parangkusumo, kini Yogyakarta Selatan. Sejak saat itu, Ratu Kidul dilaporkan berhubungan erat dengan keturunan Senopati yang berkuasa, dan sesajian dipersembahkan untuknya di tempat ini setiap tahun melalui perwakilan istana Solo dan Yogyakarta. Begitulah dua buah kisah atau legenda mengenai Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan. Versi pertama diambil dari buku Cerita Rakyat dari Yogyakarta dan versi yang kedua terdapat dalam Babad Tanah Jawi. Kedua cerita tersebut memang berbeda, tapi anda jangan bingung. Anda tidak perlu pusing memilih, mana dari keduanya yang paling benar. Cerita-cerita di atas hanyalah sebuah pengatar bagi tulisan selanjutnya. Kanjeng Ratu Kidul dan Keraton Yogyakarta Percayakah anda dengan cerita tentang Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan? Sebagian dari anda mungkin akan berkata TIDAK. Tapi coba tanyakan kepada mereka yang hidup dalam zaman atau lingkungan Keraton Yogyakarta. Mereka yakin dengan kebenaran cerita ini. Kebenaran akan cerita Kanjeng Ratu Kidul memang masih tetap menjadi polemik. Tapi terlepas dari polemik tersebut, ada sebuah fenomena yang nyata, bahwa mitos Ratu Kidul memang memiliki relevansi dengan eksistensi Keraton Yogyakarta. Hubungan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Keraton Yogyakarta paling tidak tercantum dalam Babad Tanah Jawi (cerita tentang kanjeng Ratu Kidul di atas, versi kedua). Hubungan seperti apa yang terjalin di antara keduanya? Sebagai sebuah hubungan komunikasi timbal balik dengan lingkungan yang menurut masyarakat Jawa mempunyai kekuatan yang lebih kuat, masih menurut Twikromo, maka penggunaan simbol pun sering diaktualisasikan. Jika dihubungkan dengan makhluk halus, maka Javanisme mengenal penguasa makhluk halus seperti penguasa Gunung Merapi, penguasa Gunung Lawu, Kayangan nDelpin, dan Laut Selatan. Penguasa Laut Selatan inilah yang oleh orang Jawa disebut Kanjeng Ratu Kidul. Keempat penguasa tersebut mengitari Kesultanan Yogyakarta. Dan untuk mencapai keharmonisan, keselarasan dan keseimbangan dalam masyarakat, maka raja harus mengadakan komunikasi dengan “makhluk-makhluk halus” tersebut. Menurut Twikromo, bagi raja Jawa berkomunikasi dengan Ratu Kidul adalah sebagai salah satu kekuatan batin dalam mengelola negara. Sebagai kekuatan datan kasat mata (tak terlihat oleh mata), Kanjeng Ratu Kidul harus dimintai restu dalam kegiatan sehari-hari untuk mendapatkan keselamatan dan ketenteraman. Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ini diaktualisasikan dengan baik. Pada kegiatan labuhan misalnya, sebuah upacara tradisional keraton yang dilaksanakan di tepi laut di selatan Yogyakarta, yang diadakan tiap ulang tahun Sri Sultan Hamengkubuwono, menurut perhitungan tahun Saka (tahun Jawa). Upacara ini bertujuan untuk kesejahteraan sultan dan masyarakat Yogyakarta. Kepercayaan terhadap Kanjeng Ratu Kidul juga diwujudkan lewat tari Bedaya Lambangsari dan Bedaya Semang yang diselenggarakan untuk menghormati serta memperingati Sang Ratu. Bukti lainnya adalah dengan didirikannya sebuah bangunan di Komplek Taman Sari (Istana di Bawah Air), sekitar 1 km sebelah barat Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, yang dinamakan Sumur Gumuling. Tempat ini diyakini sebagai tempat pertemuan sultan dengan Ratu Pantai Selatan, Kanjeng Ratu Kidul. Penghayatan mitos Kanjeng Ratu Kidul tersebut tidak hanya diyakini dan dilaksanakan oleh pihak keraton saja, tapi juga oleh masyarakat pada umumnya di wilayah kesultanan. Salah satu buktinya adalah adanya kepercayaan bahwa jika orang hilang di Pantai Parangtritis, maka orang tersebut hilang karena “diambil” oleh sang Ratu. Selain Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat, mitos Kanjeng Ratu Kidul juga diyakini oleh saudara mereka, Keraton Surakarta Hadiningrat. Dalam Babad Tanah Jawi memang disebutkan bahwa Kanjeng Ratu Kidul pernah berjanji kepada Panembahan Senopati, penguasa pertama Kerajaan Mataram, untuk menjaga Kerajaan Mataram, para sultan, keluarga kerajaan, dan masyarakat dari malapetaka. Dan karena kedua keraton (Yogyakarta dan Surakarta) memiliki leluhur yang sama (Kerajaan Mataram), maka seperti halnya Keraton Yogyakarta, Keraton Surakarta juga melaksanakan berbagai bentuk penghayatan mereka kepada Kanjeng Ratu Kidul. Salah satunya adalah pementasan tari yang paling sakral di keraton, Bedoyo Ketawang, yang diselenggarakan setahun sekali pada saat peringatan hari penobatan para raja. Sembilan orang penari yang mengenakan pakaian tradisional pengantin Jawa mengundang Ratu Kidul untuk datang dan menikahi susuhunan, dan kabarnya sang Ratu kemudian secara gaib muncul dalam wujud penari kesepuluh yang nampak berkilauan. Kepercayaan terhadap Ratu Kidul ternyata juga meluas sampai ke daerah Jawa Barat. Anda pasti pernah mendengar, bahwa ada sebuah kamar khusus (nomor 308) di lantai atas Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, yang disajikan khusus untuk Ratu Kidul. Siapapun yang ingin bertemu dengan sang Ratu, bisa masuk ke ruangan ini, tapi harus melalui seorang perantara yang menyajikan persembahan buat sang Ratu. Pengkhususan kamar ini adalah salah satu simbol ‘gaib’ yang dipakai oleh mantan presiden Soekarno. Sampai sekarang, di masa yang sangat modern ini, legenda Kanjeng Ratu Kidul, atau Nyi Roro Kidul, atau Ratu Pantai Selatan, adalah legenda yang paling spektakuler. Bahkan ketika anda membaca kisah ini, banyak orang dari Indonesia atau negara lain mengakui bahwa mereka telah bertemu ratu peri yang cantik mengenakan pakaian tradisional Jawa. Salah satu orang yang dikabarkan juga pernah menyaksikan secara langsung wujud sang Ratu adalah sang maestro pelukis Indonesia, (almarhum) Affandi. Pengalamannya itu kemudian ia tuangkan dalam sebuah lukisan.

http://jamansemana.files.wordpress.com/2010/01/ratu-kidul1.jpg

Selengkapnya, kami persilahkan anda menikmati alur cerita serba ringkas tentang Ratu Kidul oleh Keluarga Ketoprak Mataram Kodam VII Diponegoro, pimpinan Bagong Kussudihardjo dengan dukungan pemain hebat yang tentu akan membangkitkan kenangan anda pada kejayaan seni kethoprak.

  1. Ratu Kidul 1-1
  2. Ratu Kidul 1-2
  3. Ratu Kidul 1-3
  4. Ratu Kidul 1-4
  5. Ratu Kidul 2-1
  6. Ratu Kidul 2-2
  7. Ratu Kidul 2-3
  8. Ratu Kidul 2-4
  9. Ratu Kidul 3-1
  10. Ratu Kidul 3-2
  11. Ratu Kidul 3-3
  12. Ratu Kidul 3-4
  13. Ratu Kidul 4-1
  14. Ratu Kidul 4-2
  15. Ratu Kidul 4-3
  16. Ratu Kidul 4-4

Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama


Rama Ki Nartosabdho Almarhum

Adegan Negara Tabelasuket.

Prabu Partawijaya duduk di Sitihinggil, dihadap segenap narapraja, brahmana Sabdamuni, Patih Renggabadra, permaisuri Dewi Rati dan puterinya Dewi Sakti. Sang Prabu sangat prihatin memikirkan nasib Negara Tabelasuket yang sedang ditimpa malapetaka, wabah penyakit merajalela, rakyat menderita. Kesedihan itu ditambah pula karena Dewi Sakti sudah lama kehilangan kegembiraan, lupa makan lupa tidur, bahkan pada hari itu sepatah katapun tak terucapkan. Ternyata sang putrid merindukan seorang ksatria Bambang Sakri yang hadir dalam impiannya bebrapa waktu yang lalu.

Prabu Partawijaya minta pendapat Brahmana Sabdamuni, sarana apakah kiranya untuk mengatasi malapetaka yang menimpa Negara dan keruwetan yang dihadapi oleh puterinya. Sang Brahmana menyarankan agar Prabu Partawijaya pergi ke pertapaan Saptaarga, minta pertolongan kepada Resi Manumanasa, seorang pendeta yang tersohor bijaksana, suka memberi pertolongan kepada sesame manusia. Beliaulah yang dapat memberantas malapetaka yang menimpa Negara Tabelasuket. Disamping itu, ksatria yang dirindukan oleh Dewi Sakti adalah cucu Resi Manumanasa. Prabu Partawijaya senang sekali mendengar saran Brahmana Sabdamuni, maka pada hari itu juga beliau berangkat ke pertapaan Saptaarga.

Adegan padepokan Tegalbamban, sebuah desa yang subur, rakyatnya hidup aman tenteram. Sayang sekali disana ada seorang pendatang yang menamakan dirinya Resi Dwapara. Walaupun ia bergelar Resi, namun darma hidupnya jauh dari sifat seorang brahmana, bahkan sebaliknya, ia mengutamakan tindak angkara dan kejahatan. Siswa-siswanya terdiri dari para raja raksasa yang ingin mendapatkan kesaktian, sebagai senjata untuk melampiaskan hawa nafsu dan merampas hak orang lain. Semua keinginan para siswa disanggupi oleh REsi Dwapara, dengan syarat mereka harus dapat membinasakan Resi Manumanasa di Saptaarga. Salah seorang siswa bernama Jarawasesa raja Widarba, menyanggupi syarat yang diajukan oleh gurunya dan segera berangkat ke Saptaarga.

Adegan ditengah hutan rimba. Dua raksasa suami isteri, Ditya Kala Haswata sedang bercakap-cakap dengan isterinya Kala Haswati. Kala Haswati sedang ngidam kepingin makan daging manusia ksatria tampan tanpa cacat kemudian  Kala Haswata menyanggupi keinginan isterinya lalu pergi mencari Ksatria yang di maksud.

Bambang Sakri sudah beberapa lama meninggalkan pertapaan Saptaarga, berkelana tiada tujuan, diikuti ketiga orang panakawan, Kyai Semas, Gareng dan Petruk. Ketika sampai dipinggir danau, mereka berhenti untuk melepaskan lelah. Para panakawan menghibur Bambang Sakri. Sedang ramai-ramainya bersendau gurau, dating Kala Haswata akan menangkap Bambang Sakri, tetapi raksasa ini engan mudah dibinasakan. Demikian juga Kala Haswati yang dapat bela pati suaminya dikalahkan oleh Bambang Sakri. Bersamaanhilangnya kedua raksasa, muncullah Batara Kamajaya dan Batari Ratih. Setelah berpesan bahwa Bambang Sakri akan segera ketemu jodohnya, kedua dewa itu kembali ke kahyangan.

Perjalanan kreta Prabu Partawijaya dari Negara Tabelasuket lewat dekat Bambang Sakri yang sedang beristirahat. Kereta berhenti dan sang Prabu turun. Prabu Partawijaya senang sekali bahwa yang dicari-cari telah ketemu. Dan Prabu Partawijaya mengutarakan maksudnya bertemu Bambang Sakri, namun Bambang Sakri tidak sanggup untuk ikut Prabu Partawijaya. Terjadi perang tanding antara Prabu Partawijaya dan Bambang Sakri, tapi Bambang Sakri tidak mampu menandingi kesaktian Prabu Partawijaya, akhirnya Bambang Sakri diboyong ke Negara Tabelasuket.

Ditaman kadilengen Negara Tabelasuket, Dewi Sakti duduk menunggu kedatangan sang Ayah Prabu Partawijaya, tidak terlalu lama Prabu Partawijaya dating dengan Bambang Sakri, Ternyata Bambang Sakri tertarik dengan Dewi Sakti dan dengan waktu singkat keduanya asyik masyuk memadu cinta. Setelah merayakan upacara perkawinan antara Bambang Sakri dan Dewi Sakti. Prabu Partawijaya berangkat ke Saptaagra meminta pertolongan Begawan Manumanasa.

Dalam perjalanannya menuju Saptaarga Prabu Partawijaya kena pengaruh kesaktian Resi Dwapara, terssasar ke pertapan Tegalbamban dan menjadi korban tipu muslihat Resi Dwapara. Ia menyanggupi perintah Resi Dwapara untuk memusnahkan Resi Manumanasa. Akan tetapi kejahatan itu tidak terlaksana bahkan menjadi pertemuan kedua besan antara Prabu Partawijaya dan Bambang Satrukem, keduanya lalu berangkat ke Negara Tabelasuket. Sementara itu Dewi Sakti sudah hamil 9 bulan kemudian melahirkan anak laki-laki, Hati Bambang Sakri dan Dewi  Sakti begitu gembira. Oleh Bambang Satrukem cucunya diberi nama Parasara. Dan akhirnya diboyong ke Pertapan Sabtaarga. Akrirnya Resi Dwapara dating sendiri ke Saptaarga dan Puthut SUpalawa menyongsongnya dalam perang tanding. Resi Dwapara tidak mampu menandingi kesaktian Puthut Supalawa.

  1. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 1
  2. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 2
  3. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 3
  4. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 4
  5. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 5
  6. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 6
  7. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 7
  8. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 8

Lagu Langgam Keroncong Jawa Waldjinah


WaldjinahSudah lama rasanya tidak memposting tentang Langgam Keroncong Waldjinah.. Sepertinya terakhir kali saya memposting Sego Liwet yang belum sempat saya perbaharui linknya.. Silahkan nikmati langgam keroncong dibawah ini…

  1. Langgam Keroncong Merdu (Album Kr. Gadis Mataram – O.K Bintang Surakarta)
  2. Langgam Keroncong Nona Manis ( Album Kr. Gadis Mataram – O.K Bintang Surakarta)
  3. Langgam Kerocong Lintang Atiku (Album NawangWulan)
  4. Langgam Keroncong Nawang Wulan (Album NawangWulan)
  5. Langgam Keroncong Bathik Wonogiri (Album NawangWulan)
  6. Langgam Keroncong Panglingo Wonge Veat Mus Mulyadi (Album Elingo Kabeh)
  7. Langgam Keroncong Emplek-Emplek Ketepu (Album Emplek Ketepu)

Bonus Roro Mendhut dan Kembang Kencur

Wayang Wong – Petruk Mantu


Screenshot Studio capture #253Dikisahkan, Raden Lesmana Mandrakumara sudah beberapa waktu pergi dari kerjaan Astinapura tanpa pamit. Prabu Duryudana tidak pernah memahami alasan kepergian pangeranpati Astina yang idiot itu.  Padahal, gampang diduga, Lesmana merasa frustasi karena sudah berulangkali rencana pernikahannya gagal.  Mulai dari Siti Sendari, Pegiwa, Manuwati sampai akhirnya dia memutuskan untuk mencoba keberuntungan dengan melamar Nalawati anak perempuan Nala Gareng. Inipun terancam gagal, Screenshot Studio capture #257karena Lengkung Kusuma, anak lelaki  Petruk telah lebih dahulu melamar dan lebih masuk dihati Nalawati.

Ketika itu, sebenarnya Raden Lesmanamandrakumara berada di tengah hutan untuk bertapa demi keinginannya melamar anak Perempuan Nala Gareng, yang bernama Nalawati.  Dalam semedinya, sesosok mahluq halus bernama Kletingmungil datang menghampiri Raden Lesmana dan menyatakan kesanggupannya untuk menculik Nalawati.

Ketika saya selesai memperbaiki untuk kemudian mendengarkan Lakon Petruk Mantu sembari mengconvert ke digital, kanangan saya melayang disaat kejayaan Surono, Darsi, Rusman, Harjowibaksa dan lain-lain dalam Wayang Orang RRI SurakartaScreenshot Studio capture #259Ketika itu, Radio Republik Indonesia dan beberapa radio swasta masih sering memutar Wayang orang untuk para pendengarnya.  Entah perasaan apa yang berkecamuk disaat saya mendengarkan kembali Wayang Orang  yang sekarang praktis tak bisa kita temukan.  Yang pasti, ada rasa tenang yang aneh. Saya tiba-tiba merindukan sat-saat semavcam itu.

Saya tak ingin sendirian menikmatinya.  Silahkan anda download dan kita nikmati bersama Lakon Petruk Mantu oleh Keluarga Besar WO RRI Surakarta.

  1. WO  RRI Surakarta – Petruk Mantu 1a
  2. WO  RRI Surakarta – Petruk Mantu 1b

Bersumber dari Mbak Galuh Sekar