Arsip Blog

Fungsi Wayang dan Wayang Sebagai Sarana Pendidikan


kuntulwilanten1-copy

Berniat mau membuat gubuk baru, tetapi malah gagal. Ya, sudahlah, akhirnya saya putuskan untuk kembali ke-blog ini, walaupun banyak kekurangan sana-sini, akhirnyapun saya dandani juga. Mohon maaf, karena sudah berbulan-bulan tidak posting, berhubung bandwidht jelek dan lemot. Oke, langsung saja ke TKP.

Wayang adalah seni dekoratif yang merupakan ekspresi kebudayaan nasional. Disamping merupakan ekspresi kebudayaan nasional juga merupakan media pendidikan, media informasi, dan media hiburan.

Wayang merupakan media pendidikan, karena ditinjau dari segi isinya, banyak memberikan ajaran-ajaran kepada manusia. Baik manusia sebagai individu atau manusia sebagai anggota masyarakat. Jadi wayang dalam media pendidikan terutama pendidikan budi pekerti, besar sekali gunanya. Oleh karena itu wayang perlu dilestarikan, dikembangkan, lebih-lebih wayang kulit Purwa.

Wayang menjadi media informasi, karena dari segi penampilannya, sangat komunikatif didalam masyarakat. Dapat dipakai untuk memahami sesuatu tradisi, dapat dipakau sebagai alat untuk mengadakan pendekatan kepada masyarakat, memberikan informasi mengenai masalah-masalah kehidupan dan segala seluk-beluknya.

Read the rest of this entry

Aneka Gending-Gending Banyumasan


Gending-gending Banyumasan. Ya, itulah yang banyak dicari saat ini. Mungkin karena keunikan bahasa dan tutur katanya, membuat bahasa jawa banyumasan terkenal lucu. Memang banyak yang mengakatakan bahwa bahasa ini keras, dibandingkan bahasa jawa pada umumnya seperti di Yogyakarta dan Surakarta. Untuk lebih jelasnya tentang Sejarah, Budaya, dan Watak dari bahasa banyumasan dapat dilihat Disini. Kembali keawal tentang gending2 Banyumasan, silahkan klik sumber dibawah yang dari berbagai postingan blog ini saya jadikan satu, sehingga pengunjung tidak kesulitan.

  1. Gending Banyumasan
  2. Gending Nyamleng 3 – Gending Banyumasan “Ki Nartosabdho”
  3. Gending Banyumasan – Aneka Palaran Vol. 2
  4. Gending Banyumasan – Prawan Gunung

 

Lembar Agama Katholik – Minggu Palma


Minggu Palma adalah hari ming­gu dengan bobot paling tinggi dan penting dalam kalender liturgi. Tidak ada perayaan atau peringatan lain yang boleh menumpang apalagi menggeser Minggu ini. Inilah ming­gu terakhir Masa Prapaskah dan menjadi tanda dimulainya Pekan Suci.

Peristiwa Minggu Palma disebutkan dalam empat Injil (Mk 11:1-11; Mt 21:1-11; Lk 19:28-44 dan Yoh 12:12-19). Sebuah perayaan kemenangan yang akan menjadi nyata dalam Kebangkitan Paskah. Yesus yang naik keledai dengan daun palma di tangan dilambai-lambaikan merupakan pemenuhan nubuat Nabi Zakharia (Zak 9:9).

Pada zaman itu sudah menjadi tradisi bahwa raja atau bangsawan datang beriringan dalam sebuah prosesi dengan menunggang keledai. Keledai adalah simbol perdamaian. Maka, mereka yang hadir dengan membawa keledai tiada lain juga membawa pesan perdamaian. Sementara daun palma yang dilambaikan menandai kemenangan dan kemuliaan.

Dalam pemahaman yang paling sempit, Minggu Palma adalah permenungan pekan terakhir hidup Yesus. Sepanjang hari-hari itu, dua hal bisa dipersiapkan: penderitaan dan kebangkitan Yesus. Mengapa dan bagaimana ‘penderitaan’ Yesus itu signifikan untuk kita?

Pertama, penderitaan dan wafat Yesus menyampaikan makna penebusan. Pesan ini paling nyaring dan tampak jelas dalam Perjamuan Terakhir Kristus dengan para murid-Nya. Matius mengisahkan lahirnya Perayaan Ekaristi dengan menekankan nilai penebusan tersebut: “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa” (26:28). Kristus adalah Domba Paskah baru yang dikurbankan dan menjadi tebusan banyak orang.

Kedua, kedatangan Yesus menandai pendamaian dosa seluruh bangsa. Yesus memperbaiki hubungan manusia dengan Allah dengan mengenyahkan dosa-dosa mereka. Tindakan Yesus yang paling menyentak dalam contoh ini adalah kunjungan Yesus ke rumah Zakeus: “Hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini, karena orang inipun anak Abraham. Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lk 19: 9-10).

Ketiga, ‘solidaritas’ merupakan kata kunci untuk menerangkan bagaimana penderitaan dan wafat Kristus memberikan efek pada kita semua para pendosa. Kristus menjadi manusia dan bersedia menanggung beban dosa-dosa dunia dan menjadi ‘domba tebusan salah yang membiarkan dirinya disembelih’ (Bdk Im 14:25). Dalam liturgi Jumat Agung nanti, kita akan mendengarkan dan merenungkan Kitab Yesaya (53:4-6). Bacaan ini membawa kita untuk merenungkan Kristus yang mempraktikan solidaritas sebagai satu tubuh. Gereja umat Allah adalah satu tubuh dengan Kristus sebagai kepalanya.

Jadi, bagaimana Minggu Palma itu penting? Bersama dengan Santo Paulus kita meyakini bahwa kita bisa memahami Yesus sebagai penebus hanya apabila kita berpartisipasi dalam penderitaan-Nya. “Sekarang aku bersukacita bahwa aku boleh menderita karena kamu, dan menggenapkan dalam dagingku apa yang kurang pada penderitaan Kristus, untuk tubuh-Nya, yaitu jemaat.” (Kol 1:24). Untuk itulah kita berharap ikut juga dalam kebangkitan dan kemuliaan-Nya.

Sumber: Hidupkatolik.com

Selamat Hari Minggu Palma

“Berkah Dalem”

Salam Kami

Ki Anom Suroto & Ki Bayu Aji – Kresna Dadi Ratu


Anom S 2

Lakon ini sudah cukup lama beredar di dunia maya. Ketika saya gogling ternyata belum ada MP3-nya, makanya convert saja flash video youtube tadi ke MP3. Untuk mempermudah DL dan menikmati audio melalui player maka saya coba gabung file-file tersebut dalam 6 file (saya harapkan sesuai dengan aslinya per CD).

Memang agak terganggu juga karena split videonya agak kurang pas. Namun saya mencoba mendengarkan, hasilnya cukup lumayan juga kok.

Lakon ini berjudul “Kresno Dadi Ratu” yang dibawakan oleh Ki Anom Suroto dan putranya, Ki Bayu Aji Pamungkas. Menceritakan bagaimana proses Narayana menjadi Prabu Kresna, raja di Dwarawati. Seperti biasa di pagelaran wayang Anom Suroto, porsi hiburan lawak cukup besar yaitu di Cangikan dan Goro-Goro sehingga cenderung kita mencari hiburannya saja.

  1. Kresna Dadi Ratu 1
  2. Kresna Dadi Ratu 2
  3. Kresna Dadi Ratu 3
  4. Kresna Dadi Ratu 4
  5. Kresna Dadi Ratu 5
  6. Kresna Dadi Ratu 6

Kethoprak Mataram – Angling Darmo (Setyawati Obong)


Karena banyaknya para raja yang akan memperisteri Endang Setyowati, maka kakak angkatnya yaitu Puthut Janggakusuma mengadakan sayembara perang bagi siapapun yang ingin memperisteri adik angkatnya.  Tak seorang raja / penglamarpun yang bisa mengalahkan Puthut Janggakusuma.  Artinya, sejauh ini Setyowati belum memiliki calon suami.

Prabu Anglingdarma, yang dalam pengembaraannnya menyamar sebagai pemuda desa bernama Putut Janggalelana sampai ke Pertapaan Begawan Maniksutra, ayahanda Setyawati.  Janggalelana jatuhcinta pada pandangan pertama dengan Setyowati dan bermaksud mempersuntingnya.  Maka dia harus berhadapan dengan Putut Janggakusuma.  Dalam pertarungan hebat, Putut Janggalelana dapat mengalahkan Putut Janggakusuma sekaligus membuka tabir penyamaran masing-masing bahwa Janggakusuma sebenarnya adalah Batik Madrim.  Maka disuntinglah Setyowati sebagai permaisuri Prabu Angling Darma dan mewisuda Batik Madrim menjadi Patih di Negara Malawapati.

Read the rest of this entry