Kesenian Tradisional Jogjakarta “Gejog Lesung”


Musik tidak hanya bisa dihasilkan oleh alat musik umum yang biasa kita lihat seperti gitar, drum, bass ataupun piano. Jangan salah, ibu-ibu di Kabupaten Bantul bisa menghasilkan musik dari bukan alat musik, mereka memiliki kesenian tradisional yang dilakukan pada masa panen padi, yaitu bermain musik dengan menggunakan alat penumbuk padi (Alu). Seni tradisional ini kemudian diberi nama Gejog Lesung.

Gejog Lesung dibunyikan secara bergantian oleh ibu-ibu desa yang setelah selesai menumbuk padi. Ritme dan irama yang dihasilkan pun pasti sehingga menimbulkan perpaduan suara yang menarik. Gejog Lesung ini biasa dimainkan oleh 5-6 orang. Sebagai persembahan yang lebih atraktif, suara lesung dipadukan dengan nyanyian tradisonal, yang dibawakan secara berkelompok.

Ada sekelompok orang yang menyanyi sambil lenggak-lenggok menari. Ada pula kelompok lain yang menari, meliuk-liukkan tubuhnya sambil sesekali berputa layaknya menari dengan iringan gamelan lengkap. Gejog Lesung dilaksanakan sebagai ungkapan syukur atas melimpahnya panen padi.

Dahulu lesung digunakan oleh rakyat desa untuk memisahkan padi dari tangkai-tangkainya, setelah panen raya tiba. Caranya, padi kering dimasukkan ke dalam lesung, kemudian ditumbuk dengan alu secara berirama. Setelah jaman kian maju, membersihkan padi dengan lesung ditinggalkan, karena dinilai kurang dapat memperoleh hasil yang banyak.

Kini, lesung ditetapkan sebagai seni tradisional. Untuk melestarikannya, tradisi ini masih dilakukan saat ada festival kesenian tradisional, bersih desa, atau lomba-lomba desa saja. Gejog lesung ini juga dipakai dalam beberapa kegiatan budaya daerah misalnya sedekah laut dan ketika gerhana bulan.

Ada beberapa legenda yang menceritakan tentang Gejog Lesung misalnya dalam cerita Loro Jonggrang, Mengusir Hantu Lampor dan Legenda Gerhana Bulan. Dalam Legenda Gerhana Bulan dikisahkan bahwa Raksasa Kala Rahu akan Bulan. Pada suatu saat penjaga bulan bernama Nini Thowong tertidur sehingga Raksasa Kala Rahu berhasil memakan separo bulan. Kemudian masyarakat membuat bunyi-bunyian salah satunya dengan Gejog Lesung sehingga Nini Thowong terbangun dan memanah leher Raksasa Kala Rahu, bulan pun terbebas dari Raksasa tersebut.

Tradisi ini kini terancam punah karena hanya diminati oleh para orang tua, proses regenerasinya pun terhambat. Gejog Lesung juga dinilai kalah bersaing dengan jenis kesenian tradisional yang lain karena tidak mampu menarik minat generasi muda untuk menekuninya.

About sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 20 November 2012, in Budaya Jawa, Jogjakarta, Seni Tradisi and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: