Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama


Rama Ki Nartosabdho Almarhum

Adegan Negara Tabelasuket.

Prabu Partawijaya duduk di Sitihinggil, dihadap segenap narapraja, brahmana Sabdamuni, Patih Renggabadra, permaisuri Dewi Rati dan puterinya Dewi Sakti. Sang Prabu sangat prihatin memikirkan nasib Negara Tabelasuket yang sedang ditimpa malapetaka, wabah penyakit merajalela, rakyat menderita. Kesedihan itu ditambah pula karena Dewi Sakti sudah lama kehilangan kegembiraan, lupa makan lupa tidur, bahkan pada hari itu sepatah katapun tak terucapkan. Ternyata sang putrid merindukan seorang ksatria Bambang Sakri yang hadir dalam impiannya bebrapa waktu yang lalu.

Prabu Partawijaya minta pendapat Brahmana Sabdamuni, sarana apakah kiranya untuk mengatasi malapetaka yang menimpa Negara dan keruwetan yang dihadapi oleh puterinya. Sang Brahmana menyarankan agar Prabu Partawijaya pergi ke pertapaan Saptaarga, minta pertolongan kepada Resi Manumanasa, seorang pendeta yang tersohor bijaksana, suka memberi pertolongan kepada sesame manusia. Beliaulah yang dapat memberantas malapetaka yang menimpa Negara Tabelasuket. Disamping itu, ksatria yang dirindukan oleh Dewi Sakti adalah cucu Resi Manumanasa. Prabu Partawijaya senang sekali mendengar saran Brahmana Sabdamuni, maka pada hari itu juga beliau berangkat ke pertapaan Saptaarga.

Adegan padepokan Tegalbamban, sebuah desa yang subur, rakyatnya hidup aman tenteram. Sayang sekali disana ada seorang pendatang yang menamakan dirinya Resi Dwapara. Walaupun ia bergelar Resi, namun darma hidupnya jauh dari sifat seorang brahmana, bahkan sebaliknya, ia mengutamakan tindak angkara dan kejahatan. Siswa-siswanya terdiri dari para raja raksasa yang ingin mendapatkan kesaktian, sebagai senjata untuk melampiaskan hawa nafsu dan merampas hak orang lain. Semua keinginan para siswa disanggupi oleh REsi Dwapara, dengan syarat mereka harus dapat membinasakan Resi Manumanasa di Saptaarga. Salah seorang siswa bernama Jarawasesa raja Widarba, menyanggupi syarat yang diajukan oleh gurunya dan segera berangkat ke Saptaarga.

Adegan ditengah hutan rimba. Dua raksasa suami isteri, Ditya Kala Haswata sedang bercakap-cakap dengan isterinya Kala Haswati. Kala Haswati sedang ngidam kepingin makan daging manusia ksatria tampan tanpa cacat kemudian  Kala Haswata menyanggupi keinginan isterinya lalu pergi mencari Ksatria yang di maksud.

Bambang Sakri sudah beberapa lama meninggalkan pertapaan Saptaarga, berkelana tiada tujuan, diikuti ketiga orang panakawan, Kyai Semas, Gareng dan Petruk. Ketika sampai dipinggir danau, mereka berhenti untuk melepaskan lelah. Para panakawan menghibur Bambang Sakri. Sedang ramai-ramainya bersendau gurau, dating Kala Haswata akan menangkap Bambang Sakri, tetapi raksasa ini engan mudah dibinasakan. Demikian juga Kala Haswati yang dapat bela pati suaminya dikalahkan oleh Bambang Sakri. Bersamaanhilangnya kedua raksasa, muncullah Batara Kamajaya dan Batari Ratih. Setelah berpesan bahwa Bambang Sakri akan segera ketemu jodohnya, kedua dewa itu kembali ke kahyangan.

Perjalanan kreta Prabu Partawijaya dari Negara Tabelasuket lewat dekat Bambang Sakri yang sedang beristirahat. Kereta berhenti dan sang Prabu turun. Prabu Partawijaya senang sekali bahwa yang dicari-cari telah ketemu. Dan Prabu Partawijaya mengutarakan maksudnya bertemu Bambang Sakri, namun Bambang Sakri tidak sanggup untuk ikut Prabu Partawijaya. Terjadi perang tanding antara Prabu Partawijaya dan Bambang Sakri, tapi Bambang Sakri tidak mampu menandingi kesaktian Prabu Partawijaya, akhirnya Bambang Sakri diboyong ke Negara Tabelasuket.

Ditaman kadilengen Negara Tabelasuket, Dewi Sakti duduk menunggu kedatangan sang Ayah Prabu Partawijaya, tidak terlalu lama Prabu Partawijaya dating dengan Bambang Sakri, Ternyata Bambang Sakri tertarik dengan Dewi Sakti dan dengan waktu singkat keduanya asyik masyuk memadu cinta. Setelah merayakan upacara perkawinan antara Bambang Sakri dan Dewi Sakti. Prabu Partawijaya berangkat ke Saptaagra meminta pertolongan Begawan Manumanasa.

Dalam perjalanannya menuju Saptaarga Prabu Partawijaya kena pengaruh kesaktian Resi Dwapara, terssasar ke pertapan Tegalbamban dan menjadi korban tipu muslihat Resi Dwapara. Ia menyanggupi perintah Resi Dwapara untuk memusnahkan Resi Manumanasa. Akan tetapi kejahatan itu tidak terlaksana bahkan menjadi pertemuan kedua besan antara Prabu Partawijaya dan Bambang Satrukem, keduanya lalu berangkat ke Negara Tabelasuket. Sementara itu Dewi Sakti sudah hamil 9 bulan kemudian melahirkan anak laki-laki, Hati Bambang Sakri dan Dewi  Sakti begitu gembira. Oleh Bambang Satrukem cucunya diberi nama Parasara. Dan akhirnya diboyong ke Pertapan Sabtaarga. Akrirnya Resi Dwapara dating sendiri ke Saptaarga dan Puthut SUpalawa menyongsongnya dalam perang tanding. Resi Dwapara tidak mampu menandingi kesaktian Puthut Supalawa.

  1. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 1
  2. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 2
  3. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 3
  4. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 4
  5. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 5
  6. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 6
  7. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 7
  8. Ki Nartosabdho – Bambang Sakri Krama 8

About sukobudoyo

Berbicara apa adanya.. Menyukai budaya jawa

Posted on 4 Desember 2012, in Budaya Jawa, Budaya Jawa, Indonesia, Lagu Jadul, Lokananta Recording, RRI Surakarta, Seni Tradisi, Wayang and tagged , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. it’s worth a read. thank you for sharing so much information! mestreseo mestreseo mestreseo mestreseo mestreseo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: